Tauhid Sebagai Fitrah
Manusia: Perjanjian Azali dan Rekonstruksi Jiwa di Era Modern
Oleh :
Muhammad Hisyamsyah Dani, S.H., M.H*
Tauhid bukanlah
sekadar konsep teoretis yang dipelajari di bangku madrasah atau ruang kuliah
filsafat. Ia adalah "DNA spiritual" yang tertanam jauh di dalam
relung jiwa setiap manusia. Al-Qur'an menegaskan bahwa pengakuan terhadap
keesaan Allah bukanlah hasil dari proses belajar semata, melainkan sebuah
pengaktifan kembali memori manusia yang sudah ada.
Dalam Surah
Al-A’raf ayat 172-173, Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku
ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.'
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,
'Sesungguhnya kami lengah terhadap ini,'" (QS. 7:172).
Secara tematik,
para mufassir seperti Ibnu Katsir dan Thabathaba'i menjelaskan bahwa momen ini
adalah Mithaq (Perjanjian Agung). Sebelum raga ini menyentuh
bumi, ruh manusia telah dikumpulkan di alam Dzar. Di sana, tidak ada ego, tidak
ada jabatan, dan tidak ada materi. Yang ada hanyalah kejujuran ruhani yang
mengakui otoritas Ilahi.
Secara
etimologi, fitrah berasal dari kata fathara yang berarti "membelah"
atau "menciptakan pertama kali". Ini menyiratkan bahwa manusia
diciptakan dengan rancang bangun yang sudah "terinstal" perangkat
lunak ketuhanan. Tauhid adalah orisinalitas kita; sedangkan kesyirikan dan
ateisme adalah distorsi.
Mengapa manusia,
secara universal, cenderung mencari "Sesuatu yang Lebih Tinggi"
terutama saat terjepit dalam situasi keputusasaan? Mengapa peradaban kuno yang
terisolasi secara geografis dan tidak tersentuh wahyu nabi tetap memiliki
struktur penyembahan? Jawabannya terletak pada fungsi Tauhid sebagai fondasi
kesadaran. Tauhid bukan sekadar keyakinan eksternal, melainkan kebutuhan
eksistensial yang mendikte cara manusia mempersepsi realitas.
Dalam perspektif
psikologi transpersonal Islam, terutama yang dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali,
hati (qalb) digambarkan memiliki cermin alami. Jika cermin ini tetap
jernih dan tidak tertutup debu kemaksiatan, ia akan secara otomatis memantulkan
cahaya kebenaran Ilahi. Kesadaran manusia pada dasarnya bersifat teosentris.
Ketika seseorang mengakui "La ilaha illallah", ia sebenarnya
sedang melakukan sinkronisasi antara akal pikiran dengan kecenderungan alami
jiwanya.
Ayat 172-173
dalam Surah Al-A'raf menegaskan bahwa ateisme atau ketidakpercayaan bukanlah
sebuah kondisi alami, melainkan sebuah anomali atau distorsi. Secara
terminologis, kata kufr (kafir) berarti "menutup". Hal ini
menyiratkan bahwa seorang yang mengingkari Tuhan sebenarnya sedang melakukan
upaya aktif untuk menutup-nutupi pengetahuan yang sudah ada di alam bawah
sadarnya. Ketidakpercayaan adalah proses penolakan terhadap memori kolektif
ruhani yang bersifat apriori. Oleh karena itu, dakwah Islam pada hakikatnya
adalah tadhkirah atau "peringatan", sebuah upaya untuk
memanggil kembali ingatan yang tertimbun oleh hiruk-pikuk kehidupan duniawi,
agar manusia kembali pada struktur kesadaran orisinalnya yang damai dan
bertauhid.
Tantangan Kekinian: Deformasi
Fitrah di Era Digital
Jika Tauhid
adalah fitrah yang bersifat pasti, mengapa masyarakat global saat ini tampak
semakin menjauh dari nilai-nilai ketuhanan? Jawaban atas paradoks ini
sebenarnya telah diisyaratkan dalam kelanjutan ayat di Surah Al-A'raf: "Atau
agar kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya nenek moyang kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang datang
setelah mereka...'" (Ayat 173). Ayat ini memperingatkan tentang bahaya
hegemoni lingkungan yang dapat mendeformasi (mengubah bentuk) fitrah asli
manusia.
Wawasan Kekinian
dan Pergeseran Berhala: Di era digital, "berhala" telah mengalami
evolusi bentuk. Ia tidak lagi berupa patung yang disembah secara fisik,
melainkan manifes dalam bentuk Syirik Khafi (kesyirikan yang samar) yang
merasuki algoritma berpikir manusia modern:
Materialisme Ekstrem:
Budaya konsumerisme yang agresif menciptakan doktrin bahwa kebahagiaan dan
keamanan mutlak hanya bisa dicapai melalui akumulasi materi. Dalam konteks ini,
benda-benda seringkali menjadi "tuhan baru" yang kepadanya manusia
menggantungkan harapan dan rasa takutnya.
Scientism (Saintisme):
Berbeda dengan sains yang merupakan alat, saintisme adalah ideologi yang
mendewakan rasio. Paham ini mengecilkan realitas hanya pada apa yang bisa
diukur di laboratorium, sehingga memutus akses manusia terhadap memori
spiritual azali yang bersifat metafisik.
Self-Worship (Pemujaan Ego):
Era media sosial memaksa individu untuk terus-menerus memoles citra diri.
Narsisme akut ini sering kali membuat manusia menjadikan hawa nafsunya sebagai
otoritas tertinggi (ilah). Sebagaimana diingatkan dalam QS. Al-Jathiyah: 23,
orang yang mempertuhankan hawa nafsunya akan mengalami kebutaan batin; meski
matanya melihat keajaiban dunia, hatinya tetap gagal mengenali jejak Sang
Pencipta. Deformasi ini menyebabkan manusia modern kehilangan orientasi,
menganggap diri sebagai "pencipta" bagi nasibnya sendiri tanpa
melibatkan campur tangan Ilahi.
Saat ini, kita
menyaksikan fenomena paradoksal di mana masyarakat di negara-negara maju yang
secara materi telah mencapai puncak kenyamanan justru mengalami gelombang
depresi, kecemasan, dan kesepian yang hebat. Kondisi ini sering disebut dalam
psikologi sebagai existential void atau kehampaan eksistensial.
Tanpa Tauhid,
individu kehilangan "jangkar identitas" yang paling mendasar. Blaise
Pascal, seorang filsuf, pernah menyebut adanya "The God-shaped
hole" (lubang berbentuk Tuhan) di dalam hati setiap manusia yang tidak
bisa diisi oleh apapun kecuali oleh Sang Pencipta.
Dalam banyak
kasus, manusia modern mencoba mengisi lubang ini dengan "makanan"
yang salah: kecanduan media sosial, konsumerisme kompulsif, hingga pelarian
pada zat adiktif. Namun, karena kebutuhan dasarnya adalah kebutuhan ruhani
(fitrah), maka cara-cara materialistik tersebut justru semakin memperlebar
lubang kehampaan tersebut. Ruh manusia, yang pernah bersaksi di hadapan Allah
dalam QS. Al-A'raf: 172, memiliki "lapar spiritual" yang hanya bisa
dipuaskan dengan Dzikrullah (mengingat Allah).
Solusi Al-Qur'an: Kembali ke
Titik Nol (Inabah)
Menghadapi
deformasi fitrah, Al-Qur'an menawarkan mekanisme pemulihan yang komprehensif
agar manusia dapat kembali selaras dengan perjanjian azalinya. Solusi ini tidak
bersifat superfisial, melainkan menyentuh akar kesadaran melalui tiga pilar
utama:
Tazkiyatun Nafs (Penyucian
Jiwa): Al-Qur'an menekankan bahwa keberuntungan hanya milik mereka yang
menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams: 9). Proses ini adalah upaya aktif
membersihkan "karat" duniawi yang menutupi cermin fitrah. Dengan
membuang penyakit hati seperti kesombongan dan keterikatan berlebih pada
materi, frekuensi ruhani manusia akan kembali jernih untuk menangkap sinyal
ketuhanan yang selama ini terabaikan.
Tafakkur (Aktivasi Akal):
Al-Qur'an mengajak manusia untuk menggunakan akal guna melihat ayat-ayat Allah
di alam semesta (ayat kauniyah). Tafakkur adalah jembatan intelektual
untuk memicu kembali ingatan bawah sadar tentang Sang Pencipta. Dengan
merenungi keteraturan galaksi hingga kerumitan sel tubuh, manusia dipaksa
mengakui secara logis apa yang sebenarnya sudah diakui ruhnya di alam Mithaq.
Syariat sebagai Penjaga:
Ibadah formal bukan sekadar beban hukum, melainkan teknologi spiritual untuk
menjaga konsistensi fitrah. Shalat lima waktu, misalnya, adalah mekanisme
sinkronisasi rutin agar manusia tidak hanyut dalam "lupa" (nisyan).
Setiap sujud adalah pengulangan komitmen atas janji "Bala
Syahidna" (Ya, kami bersaksi), yang berfungsi sebagai jangkar agar
jiwa tetap kokoh di tengah badai distraksi modernitas. Melalui langkah-langkah
inilah, manusia melakukan Inabah kembali ke titik nol penciptaan yang
murni, damai, dan bertauhid.
Tauhid bukanlah
dogma yang terisolasi dalam ruang ibadah, melainkan prinsip pengorganisasian
hidup yang memberikan solusi konkret bagi tantangan sosiologis masa kini.
Ketika manusia mengintegrasikan kembali fitrah azalinya ke dalam keseharian
modern, ia akan melahirkan tiga kekuatan fundamental:
Kemerdekaan Sejati:
Pribadi yang bertauhid secara fitrah tidak akan mudah diperbudak oleh tekanan
opini publik, tren konsumerisme, atau otoritas manusia yang tiran. Ia merdeka
karena hanya menggantungkan nilai dirinya pada penilaian Sang Pencipta, bukan
pada jumlah pengikut di media sosial atau akumulasi aset.
Resiliensi dan Ketangguhan:
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan krisis global, Tauhid berfungsi sebagai
peredam guncangan (shock absorber). Kesadaran bahwa Allah adalah
pemegang kendali mutlak (QS. Al-A'raf: 172) memberikan ketenangan batin yang
tidak dimiliki oleh mereka yang merasa memikul beban dunia sendirian.
Etika Lingkungan dan
Kemanusiaan: Tauhid melahirkan kesadaran bahwa seluruh alam semesta adalah
sesama ciptaan yang bertasbih. Menjaga lingkungan dan menghargai nyawa manusia
lainnya bukan lagi sekadar aktivisme, melainkan perwujudan dari rasa hormat
kepada Sang Pencipta yang telah mengambil sumpah kita di alam ruh.
Kesimpulan:
Surah Al-A'raf
172-173 adalah proklamasi bahwa setiap individu lahir membawa benih kebenaran.
Perjalanan hidup di dunia ini bukanlah pencarian terhadap Tuhan yang asing,
melainkan sebuah kepulangan dan upaya mengingat kembali jati diri yang
sudah kita miliki sejak sebelum dilahirkan. Dengan menjaga Tauhid sebagai
fitrah, kita tidak hanya menyelamatkan iman, tetapi juga mengembalikan martabat
manusia sebagai khalifah yang harmonis dengan dirinya, sesamanya, dan Tuhannya.
Wallahu ‘alam.
*Penulis adalah Penghulu Ahli
Muda, KUA Sidikalang, Kantor Kemenag Kabupaten Dairi