Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ،
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَمَوْسِمًا لِلْبِرِّ وَالتَّرَاحُمِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الدِّينِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Jamaah Shalat Idul Adha yang
Dirahmati Allah,
Mari kita mulai pagi yang penuh berkah di hari raya Idul Adha
1447 Hijriah ini, dengan menghidupkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya ke
hadirat Allah SWT. Mengapa kita harus bersyukur? Lihatlah ke sekeliling kita
pagi ini. Kita masih dibangunkan oleh Allah, masih diberikan hembusan nafas,
dan yang paling mahal yaitu kaki kita masih diringankan untuk melangkah ke
tempat suci ini dalam keadaan beriman.
Berapa banyak saudara-saudara kita yang Idul Adha kali ini
sedang terbaring lemah di rumah sakit, mendengar gema takbir dengan air mata
menetes karena menahan sakit. Berapa banyak yang hari ini merayakan Idul Adha
dalam suasana duka karena baru saja kehilangan orang-orang tercinta. Maka
nikmat iman, Islam dan kesehatan ini terlalu besar untuk kita lupakan.
Shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada
Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya dan semoga melimpah
kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.
Di pagi hari raya Idul Adha yang dipenuhi keberkahan ini,
marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan selalu
memotivasi diri dan keluarga kita untuk selalu menjalankan perintah Allah swt
dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Jamaah shalat Idul Adha yang
dimuliakan Allah,
Pagi ini, di hari raya Idul Adha 1447 H, takbir membumbung
tinggi membelah langit. Namun, mari kita tanyakan pada lubuk hati kita yang
paling dalam: Apakah takbir itu benar-benar menggetarkan jiwa kita atau
hanya sekedar basah di ujung lidah?
Hari ini adalah hari raya qurban. Hari di mana kita diajak
kembali menengok sebuah drama kemanusiaan paling mengharu biru dalam sejarah,
kisah tentang cinta, air mata dan kepasrahan total dari sebuah keluarga suci:
Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail.
Coba bawa hati kita, bayangkan posisi Nabi Ibrahim AS. Beliau
menanti seorang anak selama 86 tahun, hampir seabad beliau menengadahkan tangan
dalam sepi malam, merindukan suara tangis bayi di rumahnya. Rambutnya sudah
memutih, fisiknya sudah melemah. Dan ketika Allah akhirnya mengabulkan doa itu
dengan lahirnya Ismail, betapa bahagianya hati Nabi Ibrahim. Diayunkannya anak
itu, diciuminya dengan penuh kehangatan.
Namun, baru saja anak itu tumbuh remaja, di saat rasa cinta
seorang ayah sedang memuncak, Allah memberikan sebuah perintah yang menyayat
hati. Lewat mimpi, Allah meminta Nabi Ibrahim menyembelih darah dagingnya
sendiri.
Allah mengabadikan dialog paling menyayat hati itu dalam
Surah As-Saffat ayat 102:
قَالَ
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا
تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ
مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya: "Ibrahim berkata: Wahai
anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
pikirkanlah, apa pendapatmu? Ia (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, lakukanlah apa
yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar”.
Mari kita resapi kalimat ini. Nabi Ibrahim tidak
menyembelihnya diam-diam. Beliau bertanya kepada anaknya. Dan perhatikan
jawaban Ismail: "Wahai ayahku, lakukanlah”. Beliau tidak memanggil
dengan namanya, tapi dengan panggilan cinta: "Wahai ayahku".
Ismail tahu lehernya akan disayat dengan pisau tajam oleh tangan ayahnya
sendiri, namun dia menguatkan hati ayahnya agar tidak ragu menjalankan perintah
Allah.
Ketika pisau itu sudah menempel di leher Ismail, ketika air mata Ibrahim mengalir membasahi pipi anaknya, dan Ismail pasrah berserah diri. Di titik puncak kepasrahan itulah Allah melihat ketulusan mereka. Allah berfirman bahwa ujian mereka telah selesai dan Allah menggantinya dengan seekor domba (kibas) yang besar.
Jamaah Idul Adha Rahimakumullah,
Sekarang, mari kita bercermin. Kisah tadi bukan sekadar
dongeng pengantar tidur, kisah itu adalah tamparan keras bagi hati kita yang
sering kali keras membatu.
Allah tidak meminta kita menyembelih anak-anak kita, Allah
hanya meminta sebagian kecil dari harta kita untuk dibelikan hewan qurban.
Namun, apa yang terjadi pada diri kita? Kita sering kali berhitung
dengan Allah, kita terlalu pelit kepada Zat yang telah memberikan kita
segalanya. Untuk membeli gadget terbaru, kita mampu. Untuk memodifikasi
kendaraan, kita sanggup. Untuk makan di restoran mewah atau pakaian bermerek,
kita tidak berpikir dua kali. Tapi ketika panggilan qurban datang setahun sekali,
kita tiba-tiba merasa miskin. Kita beralasan ada kebutuhan lain, kita merasa
sayang mengeluarkan uang dua atau tiga juta rupiah untuk seekor kambing.
Di mana iman kita jika dibandingkan dengan Ibrahim? Ibrahim
mengorbankan nyawa anaknya. Sedangkan kita, mengorbankan sedikit harta yang
sebenarnya adalah titipan Allah pun kita masih enggan.
Renungkanlah sabda Rasulullah SAW yang sangat menggetarkan
ini:
مَنْ
كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
Artinya: "Barangsiapa yang
memiliki kelapangan (rezeki) tapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat
shalat kami". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Nabi seolah-olah enggan melihat wajah kita jika kita egois.
Nabi tidak mau dekat dengan umatnya yang menumpuk harta, sementara di kanan
kirinya ada tetangga yang bahkan untuk makan daging setahun sekali pun tidak
mampu.
Bayangkan jika hari ini, di sekitar rumah kita, ada seorang
janda tua atau anak yatim yang mencium bau daging dari rumah orang lain, lalu
mereka hanya bisa menelan ludah seraya berbisik kepada anaknya, "Sabar
nak, kita tidak punya uang untuk beli daging". Di mana rasa
kemanusiaan kita jika kita membiarkan hal itu terjadi sementara tabungan kita
menumpuk di bank?
Ingatlah, Allah tidak butuh daging qurban kita. Allah tidak
butuh darahnya. Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ
مِنْكُمْ
Artinya: "Daging (hewan kurban)
dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai
kepada-Nya adalah ketakwaanmu".
Jamaah Idul Adha yang Dimuliakan Allah,
Sebelum khutbah ini berakhir, mari kita tundukkan kepala dan
tengok ke dalam diri kita masing-masing. Idul Adha adalah momentum untuk
menyembelih keegoisan kita.
Mungkin selama ini kita terlalu angkuh. Kita sibuk mengejar
dunia, bertengkar berebut harta warisan atau memutuskan silaturahmi hanya
karena urusan sepele, hingga kita melupakan orang-orang tercinta.
Tengoklah ayah dan ibu kita. Pengorbanan mereka untuk
membesarkan kita jauh lebih besar dari sekadar hewan qurban. Kulit mereka yang
mulai keriput, rambut mereka yang memutih dan tubuh mereka yang mulai
membungkuk adalah saksi bisu betapa mereka telah mengorbankan seluruh air mata,
darah dan hidup mereka demi melihat kita tersenyum. Pernahkah kita membalasnya?
Atau justru kita sering membentak mereka? Sering mengabaikan telepon dari
mereka hanya karena kita sibuk dengan pekerjaan kita?
Bagi yang orang tuanya masih ada, jangan tunggu mereka masuk
ke dalam keranda jenazah baru kita menangis menyesal. Sepulang dari shalat ini,
temui mereka. Jika mereka jauh, telepon mereka. Peluk tubuhnya yang sudah
rapuh, cium tangannya, bersujudlah di kakinya dan mintalah maaf atas segala
kekhilafan kita selama ini.
Andai mereka telah tiada, andai orang tua kita telah terbujur
kaku di liang kubur, yang hari ini suaranya tidak bisa lagi kita dengar, yang
hari ini tidak bisa lagi ikut shalat Id bersama kita. Bayangkan mereka sedang
kesepian di alam barzakh, menanti kiriman doa dari anak-anak yang dulu mereka
besarkan dengan penuh kasih sayang. Mari kita luangkan waktu hari ini untuk
menangis, mengirimkan doa terbaik untuk mereka.
Mari kita hilangkan dendam di antara kita. Jika ada hubungan yang retak antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara saudara atau antar tetangga. Sembelihlah ego dan sifat sombong itu hari ini, saling memaafkanlah.
Jamaah Idul Adha yang Diberkahi
Allah,
Mari kita sadari bersama, Idul Adha tahun ini boleh jadi
adalah Idul Adha terakhir bagi kita. Tidak ada satu pun di antara kita yang
memegang jaminan bahwa tahun depan kita masih bisa menghirup udara bumi, masih
bisa mendengar takbir bergema atau masih bisa berkumpul bersama keluarga
tercinta. Bayangkan kain putih yang kita pakai pagi ini adalah isyarat bahwa
sebentar lagi tubuh kita sendiri yang akan dibungkus oleh kain kafan yang kaku.
Ketika malaikat maut datang menjemput, apa yang akan kita bawa menghadap Allah?
Apakah rumah mewah kita? Apakah mobil megah kita? Apakah jabatan mentereng
kita? Tidak, jamaah sekalian. Kita hanya akan melangkah sendirian ke dalam
liang lahat yang gelap gulita dengan membawa lembaran amal yang penuh noda
serta hewan qurban yang pernah kita ikhlaskan di dunia sebagai kendaraan kita
melewati jembatan shiratol mustaqim.
Oleh karena itu, selagi jantung ini masih berdetak dan darah
masih mengalir di dalam tubuh, mari kita jadikan momentum hari ini sebagai
titik balik kehidupan kita. Cukuplah masa lalu kita diisi dengan kelalaian,
cukuplah hari-hari yang lalu kita habiskan untuk menumpuk harta hingga
melupakan perintah-Nya. Jika hari ini Allah masih memberi kita kesempatan
hidup, itu artinya Allah masih rindu mendengar taubat kita. Allah masih ingin
melihat kita bersujud membasahi sejadah dengan air mata penyesalan. Mari kita
ketuk pintu rahmat-Nya dengan meningkatkan kepedulian kepada sesama,
mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan dan mengorbankan apa saja yang menghalangi
jalan kita menuju ridha-Nya. Jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal di
hari kemudian, yang memohon-mohon untuk dikembalikan ke dunia walau sesaat
hanya untuk bersedekah dan berqurban, namun pintu waktu telah tertutup rapat
untuk selamanya.
Semoga Allah SWT mengetuk hati kita yang keras ini, mengampuni dosa-dosa kita, menerima ibadah qurban kita dan mengumpulkan kita kelak di jannah-Nya bersama keluarga suci Nabi Ibrahim AS dan Baginda Nabi Muhammad SAW.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ،اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ، وَجَعَلَ التَّعَاوُنَ وَالتَّكَافُلَ مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ هٰذَا الدِّينِ الْمُبِينِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا.
اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Dafiq Iman Hakim MS, S.H. (Penghulu Ahli Pertama – KUA Gunungsitoli Utara) bersama Tim Kemenag Kota Gunungsitoli