Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad . Masjid-masjid dipenuhi jamaah, mimbar-mimbar dihiasi tausiyah, dan media sosial ramai dengan kutipan religius. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah Isra’ Mi’raj benar-benar hidup dalam kesadaran umat, ataukah hanya berhenti sebagai seremoni tahunan tanpa transformasi nyata?
Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang
dipenuhi tausiyah dan spanduk ucapan. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah
peristiwa agung yang menyimpan pesan mendalam tentang iman, ketaatan, dan
kualitas spiritual umat Islam di setiap zaman. Ia bukan hanya kisah perjalanan
Nabi, melainkan cermin keimanan umat dalam
menyikapi perintah Allah SWT yang melampaui logika manusia.
Di tengah krisis moral, krisis keteladanan, dan
melemahnya komitmen beragama, Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi momentum
perenungan kolektif: ke mana arah umat Islam hari ini?
Apakah shalat—sebagai hadiah terbesar Isra’ Mi’raj—masih menjadi pusat
kehidupan, atau justru sekadar kewajiban yang dikerjakan tanpa ruh dan
penghayatan?
Isra’ Mi’raj dalam Fase Terberat Kehidupan Nabi
Isra’ Mi’raj terjadi pada fase yang sangat
berat dalam kehidupan Nabi Muhammad , yang dikenal sebagai ‘Amul
Huzn (tahun kesedihan). Pada masa itu, Nabi kehilangan dua sosok
pelindung utama dalam hidupnya: Khadijah binti Khuwailid ra., istri tercinta
sekaligus pendukung dakwah paling setia, serta Abu Thalib, paman yang selama
ini menjadi tameng sosial dan politik dari gangguan kaum Quraisy.
Secara manusiawi, kondisi ini merupakan titik
terendah dalam perjuangan dakwah. Seruan kebenaran ditolak, Nabi dihina, bahkan
diusir dan dilempari batu saat berdakwah ke Thaif. Namun justru dalam situasi
keterpurukan inilah Allah SWT memperjalankan Nabi-Nya dalam sebuah perjalanan
luar biasa, melampaui dimensi ruang dan waktu.
Pesan penting dari peristiwa ini sangat jelas: ketika
manusia berada di titik paling lemah, Allah justru paling dekat.
Isra’ Mi’raj menjadi bukti bahwa pertolongan Allah tidak selalu hadir dalam
bentuk kemenangan material, tetapi sering datang sebagai penguatan iman dan
pengangkatan derajat spiritual.
Makna Isra’: Perjalanan Horizontal Penuh Pesan
Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil
Aqsha di Palestina. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis,
melainkan sarat dengan pesan teologis dan historis yang sangat kuat.
Masjidil Haram melambangkan pusat tauhid,
sementara Masjidil Aqsha merupakan simbol kesinambungan risalah para nabi
terdahulu. Melalui Isra’, Allah menegaskan bahwa Islam bukan agama yang
terputus dari sejarah, melainkan penyempurna ajaran tauhid yang telah dibawa
oleh Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa ‘alaihimussalam.
Dalam konteks kekinian, Isra’ mengajarkan
pentingnya kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan Palestina, bukan semata
sebagai isu politik global, tetapi sebagai bagian dari kesadaran akidah umat
Islam. Mengabaikan Masjidil Aqsha berarti mengabaikan salah satu simbol
persatuan umat dan sejarah panjang kenabian.
Mi’raj: Ujian Iman yang Melampaui Akal
Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsha menembus lapisan demi
lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Di sanalah Nabi menerima perintah
shalat secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat Jibril.
Secara logika manusia, peristiwa ini sulit
diterima. Namun justru di sinilah letak ujian keimanan. Sejarah mencatat bahwa
sebagian orang memilih murtad setelah mendengar kisah Isra’ Mi’raj. Sebaliknya,
Abu Bakar ash-Shiddiq ra. justru semakin kokoh imannya dan membenarkan
peristiwa tersebut tanpa ragu. Dari sinilah beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa iman
bukanlah hasil perhitungan logika semata, melainkan buah dari
kepercayaan total kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Shalat: Hadiah Langit yang Kerap Diabaikan
Salah satu inti terpenting dari peristiwa Isra’
Mi’raj adalah perintah shalat. Tidak seperti ibadah lain yang diturunkan
melalui wahyu di bumi, shalat diperintahkan langsung di langit. Hal ini
menunjukkan bahwa shalat adalah tiang agama, penghubung antara langit dan bumi,
serta tolok ukur kualitas keimanan seorang muslim.
Ironisnya, shalat sering menjadi ibadah yang
paling ringan diucapkan, tetapi paling berat dilaksanakan dengan khusyuk dan
konsisten. Banyak yang menunaikan shalat, namun shalatnya belum mampu mencegah
dari perbuatan keji dan mungkar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruh Isra’ Mi’raj
belum sepenuhnya hidup dalam diri umat.
Shalat yang benar seharusnya melahirkan
kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Jika shalat tidak berdampak
pada akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan syariatnya, melainkan kualitas
pelaksanaannya.
Isra’ Mi’raj dan Krisis Spiritual Umat Modern
Di tengah kehidupan modern yang serba rasional
dan materialistis, pesan Isra’ Mi’raj terasa semakin relevan. Manusia hari ini
cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, keuntungan, dan efisiensi.
Bahkan agama pun sering dinilai dari manfaat pragmatis semata.
Banyak umat Islam mengaku beriman, namun masih
menimbang kebenaran agama dengan logika untung-rugi duniawi. Padahal, iman
sejati menuntut kepasrahan total kepada ketetapan Allah SWT, meskipun belum
sepenuhnya dapat dipahami oleh akal.
Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik keras
terhadap cara berpikir yang terlalu membatasi realitas pada apa yang kasat
mata. Ia mengajarkan bahwa ada dimensi kehidupan yang tidak dapat dijangkau
oleh sains, tetapi hanya dapat dirasakan oleh hati yang beriman.
Dari Langit ke Bumi: Akhlak sebagai Tujuan
Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang naik ke
langit, tetapi tentang membumikan nilai-nilai langit.
Nabi Muhammad tidak tinggal di Sidratul
Muntaha, melainkan kembali ke bumi untuk membimbing umat manusia.
Hal ini menegaskan bahwa kesalehan spiritual
harus bermuara pada kesalehan sosial. Orang yang benar-benar memahami Isra’
Mi’raj akan tampil sebagai pribadi yang rendah hati, adil, jujur, dan peduli
terhadap sesama.
Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur dari
jabatan, kekuasaan, atau popularitas, melainkan dari ketaatan dan keteguhan
iman. Dengan demikian, Isra’ Mi’raj juga menjadi kritik terhadap budaya
pencitraan religius yang miskin keteladanan.
Momentum Evaluasi dan Panggilan Perubahan
Oleh karena itu, peringatan Isra’ Mi’raj
seharusnya menjadi momentum evaluasi diri, baik secara individu maupun
kolektif. Sudahkah shalat kita menjadi penopang akhlak? Sudahkah iman kita
tetap kokoh di tengah ujian zaman? Ataukah Isra’ Mi’raj hanya berhenti sebagai
cerita indah yang diulang setiap tahun tanpa perubahan nyata?
Umat Islam tidak kekurangan ritual, tetapi
sering kekurangan substansi. Tidak kekurangan ceramah, tetapi kekurangan
keteladanan. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa kualitas iman jauh lebih penting daripada
kuantitas aktivitas keagamaan.
Jika Isra’ Mi’raj benar-benar dihayati, ia akan
melahirkan umat yang disiplin dalam ibadah, jujur dalam perbuatan, kuat
menghadapi tantangan, dan lembut dalam bermuamalah. Inilah esensi Isra’ Mi’raj:
perjalanan spiritual yang mengangkat derajat manusia—bukan hanya ke langit,
tetapi juga ke puncak kemuliaan akhlak.
Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan panggilan abadi bagi umat Islam untuk terus naik—meninggalkan kemalasan spiritual, kebekuan akal, dan kerusakan moral—menuju kehidupan yang lebih bermakna di bawah ridha Allah SWT.
Penulis : Boby Marfansyah Maduwu, S.H (CPNS Penghulu Ahli Pertama, KUA Pancur Batu, Kemenag Deli Serdang)