UJIAN HIDUP SEJATINYA ADALAH JALAN MENUJU KEDEWASAAN IMAN
Oleh : Alimin, S. HI
(Penghulu Kantor Urusan Agama
Kec. Bantimurung Kab. Maros)
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Hadirin Jama’ah
Jum’ah yang sama dirahmati Allah
Alhamdulillahi
rabbil alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala tuhan semesta alam,
yang telah memberikan begitu banyak nikmat serta anugerah kepada kita, bil
khusus telah memberikan nikmat paling khusus, yaitu nikmat Islam dan iman. Nikmat diberikan kesabaran dalam menjalani ujian, Mari
kita senantiasa syukuri dan nikmati.
Sholawat
dan salam senantiasa kita curahkan kepada jungjungan kita Baginda Rasulullah
Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam telah mencontohkan kepada kita semua tentang hakikat kehidupan yang
tiap-tiap yang hidup pasti akan mati dan tiap-tiap yang datang pasti akan pergi
semoga sisa umur kita dapat senantiasa digunakan untuk mengikuti sunnah-sunnah
Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah yang sama dirahmati Allah SWT.
Di
dalam Al-Qur'anul Karim, Allah SWT Mengingatkan bahwa Apakah manusia
mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja pada setiap waktu, tempat dan
situasi hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji
dengan hal-hal yang dapat membuktikan hakikat keimanan mereka, yaitu dalam
bentuk cobaan-cobaan dan tugas-tugas keagamaan? Tidak, bahkan mereka harus
diuji dengan hal-hal seperti itu. Dalam Surat Al-Angkabut ayat 2, Allah
berfirman
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ
Pada
ayat ini, Allah bertanya kepada manusia yang telah mengaku beriman dengan
mengucapkan kalimat syahadat bahwa apakah mereka akan dibiarkan begitu saja
mengakui keimanan tersebut tanpa lebih dahulu diuji.. Tidak, malah setiap orang
beriman harus diuji lebih dahulu, sehingga dapat diketahui sampai di manakah
mereka sabar dan tahan menerima ujian tersebut.
Ujian
yang mesti mereka tempuh itu bermacam-macam jamaah skalian. Umpamanya perintah
berhijrah meninggalkan kampung halaman demi menyelamatkan iman dan keyakinan,
berjihad di jalan Allah, mengendalikan syahwat, mengerjakan tugas-tugas dalam
rangka taat kepada Allah, dan bermacam-macam musibah seperti kehilangan anggota
keluarga, dan hawa panas yang kering yang menyebabkan tumbuh-tumbuhan mati
kekeringan.
Semua
cobaan itu dimaksudkan untuk menguji siapakah di antara mereka yang
sungguh-sungguh beriman dengan ikhlas dan siapa pula yang berjiwa munafik. Juga
bertujuan untuk mengetahui apakah mereka termasuk orang yang kokoh pendiriannya
atau orang yang masih bimbang dan ragu sehingga iman mereka masih rapuh.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah yang sama dirahmati Allah SWT.
Maksud
ayat ini jamaah skalian dapat dilihat dalam ayat lain, yakni: Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui
orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia
selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Mahateliti terhadap
apa yang kamu kerjakan. (at-Taubah/9: 16)
Maka dari itulah dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang yang mengaku
beriman tidak akan mencapai hakikat iman yang sebenarnya sebelum ia menempuh
berbagai macam ujian. Ujian itu bisa berupa kewajiban seperti kewajiban dalam
memanfaatkan harta benda, hijrah, jihad di jalan Allah, membayar zakat kepada
fakir miskin, menolong orang yang sedang mengalami kesusahan dan kesulitan, dan
bisa juga berupa musibah.
Hadirin Jama’ah
Jum’ah yang sama dirahmati Allah SWT.
Ujian hidup sejatinya adalah jalan menuju kedewasaan iman. Dengan bersyukur, kita akan melihat sisi positif dari setiap musibah. Bersyukur karena masih bisa sabar, bersyukur karena masih diberi lisan untuk beristirjā’, bersyukur karena tidak ditimpa azab besar seperti umat terdahulu, dan bersyukur karena iman kita masih Allah jaga.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang sabar, bersyukur, dan selalu dekat dengan Allah SWT. Āmīn
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ،
وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْم
Khutbah II
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ
وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا
اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،
إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا
وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا
بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا
وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ
الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا
وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Aqimus Shalaah
: