Pantai Cermin
(Humas) β Dengan penuh dedikasi dan keteguhan hati, Muhammad Ratim, S.Pd.I,
Penghulu KUA Pantai Cermin, kembali menunjukkan bahwa tugas pelayanan umat
tidak mengenal batas dan tidak tunduk pada keadaan alam. Pada Jumat pagi itu,
ia bersama Penyuluh Agama Islam, Sahri, S.Sy, harus menembus banjir demi
menunaikan amanah sakral: menikahkan sepasang calon pengantin di Dusun IV Desa
Pantai Cermin Kiri, Jumat, (28/11).
Hujan yang
mengguyur 4 (empat) hari sebelumnya menyebabkan banjir merendam hampir seluruh
wilayah Desa Pantai Cermin Kiri. Genangan air bervariasi, mulai setinggi betis
hingga mencapai pinggang orang dewasa di beberapa titik. Namun kondisi ini
tidak menjadi alasan untuk menunda pelaksanaan akad nikah yang telah lama
ditunggu kedua mempelai. Dengan sepeda motor, Ratim dan Sahri memulai
perjalanan penuh risiko itu, berharap medan tidak seberat yang dibayangkan.
Namun
kenyataan berkata lain. Semakin jauh masuk ke desa tersebut, banjir semakin
tinggi. Sepeda motor yang mereka tumpangi mulai sulit dikendalikan, bahkan
hampir mati beberapa kali. Melihat kondisi tersebut, sejumlah warga yang berada
di lokasi memberi saran agar mereka tidak melanjutkan perjalanan dengan sepeda
motor karena arus air semakin dalam dan berbahaya.
Warga
setempat kemudian menawarkan alternatif: sebuah becak sepeda motor. Dengan
sigap, masyarakat membantu mengangkat sepeda motor Ratim ke atas becak agar
tetap aman dan tidak terendam. Ratim pun dipersilakan duduk di kursi pengemudi
becak, sementara Sahri menjaga berkas-berkas akad nikah agar tidak terkena air.
Pemandangan itu menjadi bukti bahwa kebersamaan dan gotong royong masih hidup
kuat di tengah masyarakat Pantai Cermin.
Perjalanan
pun dilanjutkan dengan becak yang didorong oleh beberapa warga. Genangan air
yang tinggi dan arus yang cukup kuat membuat laju becak semakin berat. Namun
berkat kekuatan warga yang bahu-membahu, becak perlahan berhasil melewati
titik-titik banjir yang paling dalam. Setiap langkah dorongan warga seolah
menjadi energi tambahan bagi sang penghulu agar tetap fokus menjalankan amanahnya.
Meskipun
tubuh basah oleh percikan air dan lelah tak terhindarkan, Ratim tetap memeluk
erat tas berisi dokumen akad nikah. Baginya, menjaga berkas tetap kering sama
pentingnya dengan menjaga kekhidmatan prosesi akad itu sendiri. Dedikasi ini
membuat warga yang membantu semakin terharu, menyadari betapa besar komitmen
penghulunya dalam melayani masyarakat.
Setibanya di
rumah calon pengantin, rasa bahagia dan haru menyelimuti keluarga. Mereka tidak
menyangka bahwa sang penghulu menempuh perjalanan sedemikian berat demi
memastikan akad nikah tetap terlaksana tepat waktu. Prosesi sakral itu akhirnya
berlangsung dengan khidmat, menghadirkan kebahagiaan yang tak ternilai bagi
kedua mempelai dan keluarga besar.
Kisah
perjuangan Muhammad Ratim hari itu menjadi pengingat bahwa pelayanan keagamaan
bukan sekadar tugas administrasi, tetapi sebuah pengabdian yang mengedepankan
hati, ketulusan, dan keberanian. Di tengah banjir yang merendam dusun, mereka
tetap hadir sebagai sosok penuntun dalam momen paling penting dua insan yang
hendak membangun rumah tangga. Dedikasi itu layak menjadi inspirasi bagi siapa
pun yang mengemban amanah pelayanan publik.