Deli Serdang, (Humas). Kepala Kantor Urusan Agama (KUA)
Kecamatan Pancur Batu, H. Ilyas, M.A, mendampingi Kepala Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang, Dr. H. Saripuddin Daulay, S.Ag., M.Pd,
dalam kegiatan Syukuran Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 Keluarga Besar Bimbingan
Masyarakat Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara,
yang dilaksanakan pada Jum’at, (09/01), pukul 16.30 WIB,
bertempat di Retret
Centre GBKP Desa Suka Makmur, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.
Kegiatan ini menjadi
bagian dari rangkaian pembinaan dan penguatan kebersamaan keluarga besar Bimas
Katolik di lingkungan Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara. Hadir dalam
kegiatan tersebut para pejabat dan tokoh lintas lembaga, antara lain Vikjen Keuskupan
Sibolga Pastor Ignatius Purwosuranto, OSC, Vikep Kabanjahe
Pastor Angelo Purba, OFM Kapusin, Pembimbing Masyarakat Katolik
Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Utara Marihuttua Pasaribu, S.Ag., M.Si,
serta jajaran Kepala Kemenag kabupaten/kota, penyuluh agama Katolik, dan
undangan lainnya.
Dalam kesempatan
tersebut, Saripuddin
Daulay, hadir sekaligus mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama
Provinsi Sumatera Utara. Dalam sambutannya, ia menyampaikan
pesan reflektif bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru tidak hanya dimaknai
sebagai kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi,
penguatan komitmen, dan peneguhan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan
bermasyarakat dan berbangsa.
Ia menegaskan bahwa
agama harus menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan
bersama, tidak berhenti pada simbol dan ritual semata, tetapi terwujud dalam
cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menjunjung tinggi nilai
kemanusiaan, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Menurutnya, inilah esensi keberagamaan yang substansial dan kontekstual.
Mengangkat tema
perayaan “Bersahabat
dengan Alam dan Semua Ciptaan”, Saripuddin menyampaikan bahwa
tema tersebut sangat relevan dengan tantangan pembangunan nasional saat ini.
Relasi manusia dengan alam harus ditempatkan secara utuh, berimbang, dan
berkeadilan. Alam bukan hanya sumber daya, tetapi ruang hidup bersama yang
wajib dijaga keberlanjutannya.
Ia juga menyoroti
berbagai krisis lingkungan yang terjadi sebagai konsekuensi dari pola
pembangunan yang kurang berorientasi pada keberlanjutan. Dalam konteks ini,
agama memiliki peran strategis sebagai landasan etika dan moral untuk membentuk
kesadaran kolektif agar manusia tidak serakah, tidak eksploitatif, dan mampu
hidup selaras dengan ciptaan lainnya.
Lebih lanjut, Saripuddin menekankan bahwa Kementerian Agama memiliki mandat konstitusional untuk memastikan kehidupan beragama di Indonesia tidak hanya rukun secara sosial, tetapi juga produktif secara etis.
Salah satu arah kebijakan yang terus
diperkuat adalah penguatan ekoteologi, yakni pemahaman dan penghayatan
ajaran agama yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian
integral dari pengamalan iman.
Menurutnya,
ekoteologi bukan sekadar wacana tambahan, melainkan penguatan nilai dasar bahwa
menjaga alam merupakan wujud syukur atas anugerah Tuhan sekaligus tanggung
jawab moral terhadap generasi yang akan datang. Dengan demikian, keberagamaan
yang dibangun adalah keberagamaan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Dalam konteks Hari Amal Bakti
Kementerian Agama ke-80 Tahun 2026 yang mengusung tema “Umat Rukun dan
Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Saripuddin mengajak seluruh
jajaran Kementerian Agama dan umat beragama untuk terus memperkuat sinergi
lintas iman, menjaga kerukunan, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi
pembangunan bangsa.
Kehadiran Ka. KUA Pancur
Batu Ilyas, pada
kegiatan ini mencerminkan komitmen KUA sebagai garda terdepan Kementerian Agama
di tingkat kecamatan dalam mendukung penguatan moderasi beragama dan kerukunan
umat. KUA diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam pelayanan
keagamaan yang inklusif, humanis, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurut Ilyas,
kegiatan lintas umat seperti ini menjadi ruang penting untuk memperkuat
silaturahmi, membangun saling pengertian, serta meneguhkan peran agama sebagai
perekat persatuan bangsa. Nilai kebersamaan yang terbangun harus terus dirawat
dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang majemuk.
Kegiatan Syukuran
Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini berlangsung dalam suasana khidmat, penuh
keakraban, dan semangat persaudaraan. Acara ditutup dengan doa bersama serta
komitmen seluruh peserta untuk terus memperkuat peran agama dalam mewujudkan
kehidupan yang rukun, damai, dan berkeadilan, sejalan dengan Asta Protas
Kementerian Agama dan semangat HAB ke-80.