Ada satu kisah rumah tangga yang mungkin jarang kita bayangkan.
Di dalam
rumah putri Rasulullah ﷺ sendiri, pernah terjadi ketegangan.
Ali bin Abi
Thalib sedang marah kepada Fatimah Ali kemudian keluar dari rumah dan pergi ke
masjid.
Ia
berbaring di sana, di dekat dinding.
Tidak ada
cerita panjang tentang pertengkaran itu. Tidak ada percakapan yang disebarkan
kepada orang-orang. Tidak ada kisah tentang siapa yang benar dan siapa yang
salah.
Yang kita
tahu, Rasulullah ﷺ kemudian datang menemui Ali.
Beliau
melihat Ali sedang berbaring dengan punggung yang terkena debu. Rasulullah ﷺ
membersihkan debu itu sambil memanggilnya dengan panggilan yang sangat lembut:
“Bangunlah,
wahai Abu Turab.”
“Abu Turab”
berarti bapak debu.
Ali
kemudian bangun dan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Kisah ini
diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari.
Sederhana
sekali.
Tetapi
justru di situlah menariknya.
Ali dan
Fatimah bukan pasangan biasa.
Ali adalah
sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ.
Fatimah adalah putri beliau yang sangat beliau cintai.
Namun kedekatan mereka dengan Rasulullah ﷺ tidak membuat rumah tangga mereka selalu bebas dari perbedaan.
Ada saat
ketika emosi muncul.
Ada saat
ketika seseorang memilih menenangkan diri.
Dan ada
saat ketika masalah tidak langsung selesai.
Tetapi
perhatikan satu hal.
Masalah itu
tidak berubah menjadi tontonan.
Kita tidak
menemukan Ali membawa persoalan rumah tangganya kepada orang-orang untuk
mencari pembenaran.
Kita juga
tidak menemukan Fatimah mengumpulkan orang untuk menjelaskan siapa yang salah.
Ketika
Rasulullah ﷺ mengetahui keadaan Ali, beliau tidak datang untuk
mempermalukannya.
Beliau
datang.
Menemukan
Ali.
Membersihkan
debu dari punggungnya.
Lalu memanggilnya dengan panggilan yang lembut.
Mungkin
inilah salah satu sisi menarik dari kisah tersebut.
Dalam
sebuah konflik rumah tangga, kadang yang dibutuhkan bukan orang yang
memperbesar masalah, tetapi seseorang yang membantu suasana menjadi lebih
tenang.
Kisah Ali dan Fatimah terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.
Dulu, ketika suami dan istri memiliki masalah, ruang penyebarannya sangat terbatas.
Sekarang
berbeda.
Satu
kalimat dapat ditulis di media sosial.
Satu foto
dapat diberi keterangan.
Satu
percakapan dapat dibagikan.
Kemudian
orang-orang mulai berdatangan.
Ada yang
bertanya.
Ada yang
memberi nasihat.
Ada yang
membela.
Ada pula
yang langsung menyimpulkan siapa yang salah.
Padahal
mereka tidak berada di dalam rumah itu. Mereka hanya melihat satu potongan
cerita. Di sinilah kita mungkin perlu berhenti sejenak.
Apakah
setiap masalah rumah tangga memang perlu diketahui orang lain?
Bukan berarti masalah harus dipendam
Tentu bukan
begitu maksudnya.
Ada
persoalan rumah tangga yang memang membutuhkan bantuan.
Ali sendiri
akhirnya bertemu dengan Rasulullah ﷺ.
Dalam
kehidupan kita, seseorang mungkin membutuhkan orang tua, keluarga yang
dipercaya, ustaz, konselor, atau pihak lain yang memang dapat membantu.
Jadi
persoalannya bukan apakah masalah boleh diceritakan.
Persoalannya
adalah:
kepada siapa masalah itu diceritakan dan untuk apa?
Ada
perbedaan besar antara mencari jalan keluar dengan mencari penonton.
Ketika
seseorang datang kepada orang yang dipercaya untuk mencari solusi, ia sedang
berusaha menyelamatkan rumah tangganya.
Tetapi
ketika persoalan pribadi diumbar kepada banyak orang, masalah yang semula hanya
terjadi di dalam rumah bisa mendapatkan kehidupan baru di luar rumah.
Komentar
mulai bermunculan.
Penilaian
mulai terbentuk.
Dan
terkadang, masalah yang sebenarnya masih mungkin diselesaikan justru menjadi
semakin rumit karena terlalu banyak orang ikut masuk.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang rahasia
suami dan istri
Dalam Sahih
Muslim, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras tentang orang yang
menyebarkan rahasia hubungan suami dan istrinya setelah keduanya mendapatkan
kepercayaan dan kedekatan.
Pesannya
terasa semakin kuat di zaman media sosial.
Dahulu
“orang lain” mungkin hanya berarti beberapa orang yang berada di sekitar kita.
Sekarang
“orang lain” bisa berarti ratusan bahkan ribuan orang.
Satu
unggahan bisa membuat sesuatu yang sangat pribadi menjadi diketahui banyak
orang.
Dan yang
lebih sulit, unggahan itu mungkin tetap ada ketika persoalannya sendiri sudah
selesai.
Suami dan
istri mungkin sudah berdamai.
Tetapi
orang lain masih mengingat cerita yang pernah dibagikan.
Kisah Ali
dan Fatimah tidak mengajarkan bahwa rumah tangga harus selalu tenang.
Justru
sebaliknya.
Rumah
tangga tetap berisi manusia.
Ada emosi.
Ada
perbedaan.
Ada salah
paham.
Yang
membedakan mungkin adalah bagaimana masalah itu diperlakukan.
Ali tidak
menjadikan pertengkarannya sebagai cerita untuk orang banyak.
Dan ketika Rasulullah ﷺ mengetahui keadaannya, beliau tidak mempermalukannya di hadapan orang lain.
Beliau
mendekat.
Beliau
menenangkan.
Beliau
membantu.
Mungkin ada
pelajaran sederhana di sini.
"Tidak semua masalah harus memiliki penonton"
Sebagian
cukup menjadi pembicaraan suami dan istri.
Sebagian
membutuhkan orang yang dipercaya.
Sebagian
membutuhkan bantuan yang lebih serius.
Tetapi
tidak semuanya harus sampai ke media sosial.
Sebab rumah
tangga bukan panggung.
Dan
pasangan bukan bahan cerita.
Ada bagian dari kehidupan suami dan istri yang justru menjadi indah karena hanya mereka berdua yang mengetahuinya.
Seperti
kisah Ali dan Fatimah.
Kita
mengetahui bahwa mereka pernah mengalami ketegangan.
Tetapi kita
tidak perlu mengetahui seluruh isi pertengkarannya.
Mungkin memang begitulah seharusnya.
Tidak semua
yang terjadi di dalam rumah harus diketahui orang di luar rumah.
Karena
terkadang, menjaga sebuah rumah tangga bukan hanya tentang mempertahankan
hubungan.
Tetapi juga tentang menjaga rahasia orang yang telah mempercayakan hidupnya kepada kita. (Ahmad Khairudin - Penghulu KUA Batanghari)