Ramadhan Bulan Al-Qur'an, Penuntun Jiwa Menuju Kebahagiaan
Oleh :
Hamidi Asgori Lubis, S.H*
Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan
sebuah panggung agung di mana langit dan bumi bertemu dalam peristiwa Nuzulul
Qur'an. Di malam yang penuh kemuliaan itu, Sang Pencipta menurunkan mukjizat
terbesar sebagai lentera yang menembus kegelapan jahiliah. Ketika kalam Ilahi
menyentuh sanubari, ia tidak hanya menjadi sekumpulan ayat yang dibaca, tetapi
bertransformasi menjadi penuntun jiwa yang sedang gundah. Melalui peringatan
turunnya Al-Qur'an di bulan suci ini, kita diajak untuk kembali menyelami
setiap hurufnya demi menemukan peta jalan hakiki menuju kebahagiaan yang abadi
di dunia maupun akhirat.
Peristiwa Nuzulul Qur’an merupakan salah satu momen paling agung
dalam sejarah umat manusia. Ia bukan sekadar peristiwa turunnya kitab suci,
tetapi juga menjadi titik awal perubahan peradaban dari kegelapan menuju
cahaya. Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup bagi manusia, pembeda
antara yang benar dan yang salah, sekaligus rahmat bagi seluruh alam. Allah
menjelaskan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan tentang petunjuk dan
pembeda antara yang benar dan yang batil (QS. Al-Baqarah: 185). Karena
kemuliaan Al-Qur’an inilah, segala sesuatu yang berkaitan dengannya ikut
menjadi mulia.
Malaikat Jibril menjadi makhluk yang sangat dimuliakan karena ia
mendapatkan tugas agung sebagai perantara wahyu. Allah menyebut bahwa Al-Qur’an
dibawa turun oleh Ruhul Amin (malaikat yang terpercaya) ke dalam hati Nabi agar
beliau menjadi pemberi peringatan (QS. Asy-Syu‘ara: 193-194). Ini menunjukkan
bahwa kedudukan menjadi tinggi karena keterlibatan dengan wahyu Allah.
Demikian pula manusia terbaik sepanjang zaman, Muhammad ﷺ.
Beliau menjadi manusia paling mulia karena menjadi penerima Al-Qur’an. Bahkan
akhlak beliau disebut sebagai Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam hadis
bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia menjawab: “Akhlak beliau
adalah Al-Qur’an.” Ini menunjukkan bahwa kemuliaan manusia sangat erat
dengan kedekatannya terhadap wahyu.
Tempat turunnya Al-Qur’an juga mendapatkan kemuliaan. Kota Makkah
menjadi kota paling suci karena di sanalah wahyu pertama turun. Sementara
Madinah menjadi kota penuh berkah karena menjadi tempat penyempurnaan syariat
Islam. Bahkan Allah bersumpah dengan negeri Makkah sebagai tanda kemuliaannya: “Aku
bersumpah dengan negeri ini (Makkah)” (QS. Al-Balad: 1).
Waktu turunnya Al-Qur’an pun menjadi waktu yang paling mulia. Allah
menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan, dan malam itu
lebih baik daripada seribu bulan (QS. Al-Qadr: 1-3). Karena itulah Ramadhan
menjadi bulan terbaik sepanjang tahun. Rasulullah setiap Ramadhan memperbanyak
membaca Al-Qur’an bersama Jibril, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat
Bukhari.
Bahkan benda-benda sederhana seperti kertas dan tinta ikut
mendapatkan kemuliaan ketika digunakan untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Allah
menyebut bahwa Al-Qur’an berada dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan,
ditinggikan, dan disucikan (QS. ‘Abasa: 13-14). Padahal secara materi, kertas
dan tinta hanyalah benda biasa, namun karena berkaitan dengan kalam Allah,
nilainya menjadi luar biasa.
Dari sini kita belajar sebuah pelajaran besar, kemuliaan tidak
selalu berasal dari zat sesuatu itu sendiri, tetapi dari hubungannya dengan
Al-Qur’an. Jika malaikat, nabi, tempat, waktu, dan benda bisa menjadi mulia
karena Al-Qur’an, maka manusia pun bisa menjadi mulia dengan sebab yang sama.
Manusia yang membaca Al-Qur’an akan dimuliakan. Manusia yang
mempelajarinya akan ditinggikan derajatnya. Manusia yang mengamalkannya akan
diberi keberkahan hidup. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah
orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Bahkan
disebutkan bahwa orang tua dari penghafal Al-Qur’an kelak akan dipakaikan
mahkota cahaya pada hari kiamat sebagai bentuk kemuliaan dari Allah.
Namun kenyataannya, banyak orang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai
bacaan ritual tanpa kedekatan hati. Padahal Allah menegaskan: “Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13). Dan tidak ada jalan menuju ketakwaan yang lebih jelas
selain mengikuti petunjuk Al-Qur’an.
Nuzulul Qur’an seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki
hubungan kita dengan Al-Qur’an. Bukan hanya memperbanyak bacaan, tetapi juga
memahami maknanya, mengamalkan ajarannya, dan menjadikannya pedoman hidup
sehari-hari. Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an akan dipenuhi
ketenangan. Hati yang dekat dengan Al-Qur’an akan mendapatkan cahaya. Kehidupan
yang diatur oleh Al-Qur’an akan mendapatkan keberkahan.
Kesimpulan
Akhirnya, pesan terpenting dari Nuzulul Qur’an adalah bahwa
kemuliaan terbuka bagi siapa saja. Siapa pun yang melibatkan dirinya dengan
Al-Qur’an akan diangkat derajatnya oleh Allah, tanpa memandang latar belakang,
pendidikan, atau status sosialnya. Selama ia dekat dengan Al-Qur’an, maka ia
sedang berjalan menuju kemuliaan sejati.
Semoga kita termasuk orang-orang yang hidup bersama Al-Qur’an, dimuliakan karena Al-Qur’an, dan kelak dikumpulkan bersama para pecinta Al-Qur’an di surga Allah. Aamiin.
*Penulis adalah Penghulu CPNS KUA Haranggaol Horisan - Kemenag Kabupaten Simalungun.