Perdana! PC APRI Tapanuli Tengah Gelar Kajian Seputar Penghulu

Pandan, (Humas). Kegiatan Kajian Seputar Penghulu yang digagas Pengurus Cabang Asosiasi Penghulu Republik Indonesia Tapanuli Tengah digelar secara interaktif, Rabu (19/08).

Rivai A.R. Dani, S.H selaku Sekretaris PC APRI Tapanuli Tengah yang memandu acara kajian, memaparkan bahwa Kajian Seputar Kepenghuluan ini dilaksanakan dalam rangka upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalitas seorang Penghulu sekaligus menjalankan program kerja organisasi.

Selaku Ketua PC APRI Tapanuli Tengah, H. Liberny, SH.I., M.H memaparkan, kegiatan kajian yang perdana dilaksanakan, dapat terus dilakukan secara continue dalam menjalankan tupoksi sebagai Penghulu. Kegiatan kajian ini juga diberikan dukungan penuh oleh Ka. Kankemenag Tapanuli Tengah, dengan kesediaannya membubuhkan tanda tangan pada sertifikat penghargaan narasumber Kajian Seputar Penghulu PC APRI Tapanuli Tengah.

Materi yang diangkat pada Kajian Perdana ini yaitu Optimalisasi Fasilitator Bimbingan Perkawinan dengan menghunjuk narasumber Rahmat Wijaya, S.Sos, yang merupakan peserta Bimtek Fasilitator Bimbingan Perkawinan yang diselenggarakan oleh Kanwil Kemenag Sumatera Utara.

Melalui pemaparannya, Rahmat menyampaikan bahwa Bimbingan Perkawinan (Bimwin) merupakan media untuk membuka ruang kepada calon pengantin yang lebih proaktif dengan memanfaatkan pendekatan pelatihan yang menyenangkan dalam kegiatan bimwin, sehingga para Fasilitator Bimwin perlahan dapat meninggalkan metode Bimwin yang monolog. Materi ajar dan modul yang didapatkan selama mengikuti Bimtek Fasilitator Bimwin turut serta disosialisasikan sebagai rujukan para Fasilitator Bimwin di KUA se Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam diskusi interaktif, Kepala Seksi Bidang Kajian Hukum Islam dan Karya Ilmiah, Dr. Muhammad Ali Napiah Lubis, M.H merespon bahwa pendekatan dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan tetap harus dikuatkan dengan nilai-nilai spiritual, karenan sesungguhnya Penghulu adalah orang yang paling berdaulat dihadapan Catin, imbuhnya.

Yang dibutuhkan adalah rujukan sistematis yang lebih baku dalam melakukan Bimbingan Perkawinan ungkap Liberny disela diskusi.

Perlu adanya buku saku Penghulu yang dijadikan sebagai pedoman bagi Penghulu dalam menjalankan tupoksinya, sehingga ritme seorang Penghulu menjalankan tugasnya dapat dilakukan secara seragam, tutup Rivai dalam konklusi diskusi.(RA)

 


Bagikan Artikel