PENGHULU BANSRI : SALING… DAN SALING
Oleh : Muhammad Syafran Lubis
Hadits roman yang menjanjikan pahala menggiurkan bagi suami atau
istri konteksnya adalah dalam rangka membahagiakan diri dan pasangan. Sahabat
Anas bin Malik meriwayatkan,
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ
اللَّهَ فِي النِّصْفِ الثَّانِي
“Barang siapa menikah maka ia telah
menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah swt pada
separuh yang kedua”.
Imam al-Qurthubī menjelaskan bahwa menikah dapat melindungi dari
zina, menjaga kehormatan dari zina termasuk amal yang mendapat jaminan surga
dari Rasulullah. Artinya, waktu yang kita gunakan untuk melindungi keluarga
dari zina, menjaga kehormatan, merupakan ibadah dan bertakwalah pada Allah pada
“waktu” lain yang tidak kita isi dengan ibadah.
Secara tekstual, hadis ini lumayan menggiurkan, menikah adalah
pintu menyempurnakan separuh iman, dengan iman seorang muslim bisa masuk surga.
Kita bisa lihat betapa semangat seorang muslim menumpuk pahala untuk meraih
surga.
Amalan-amalan yang pahalanya
beribu kali lipat lebih banyak pasti kita kerjakan mati-matian, tak lain karena
adanya kesadaran usia umat Nabi Muhammad jarang yang sampai 100 tahun. Maka tak
heran jika menikah yang dikatakan oleh Nabi “.. telah menyempurnakan separuh agama”
dengan jumawa kita telan mentah mentah oleh sebagian muslim. Seakan berkata “agamaku
sudah separuh sempurna, hanya dengan mengucap ‘aku terima nikahnya ’”
Dianggapnya menikah hanya sebatas
itu, padahal ada kehidupan anggota keluarga yang harus kita penuhi hak haknya,
mengusahakan relasi yang saling membantu, saling musyawarah, saling merelakan,
sebab selalu ada masalah dalam rumah tangga yang berkesinambungan. Jika
berhasil menghadapinya maka itulah ibadah.
Jika tidak berhasil menghadapinya
maka itu bukan ibadah Apakah saat berselisih lalu bertengkar dan tidak ada yang
mau mengalah itu juga ibadah? Apa saat ekonomi terabaikan dan anak-anak
terlantar tidak sekolah itu ibadah ? orang tua yang bermalas malasan dan tidak
mau mencari nafkah itu ibadah ? atau yang lebih parah lagi ada pihak yang sengaja
mengkhianati pernikahan dengan berselingkuh juga ibadah? Itu semua terjadi
dalam pernikahan yang “katanya” ibadah?
Segala hal yang menyakitkan bukanlah ibadah. Demikianlah, dalam
pernikahan ada unsur ibadah dan dosa. Setiap pernikahan berpotensi mendapatkan
pahala atau dosa. Saat anda ingin membahagiakan diri dan anggota keluarga anda
maka saat itulah anda beribadah. Sebaliknya, jika merugikan anda dan atau orang
lain dalam keluarga maka saat itulah anda berdosa.
Maka nikah yang
menjadi ibadah itu adalah , nikah yang saling membantu, saling tolong menolong,
dan saling….. saling…… dan saling lagi .
Saling mengerti dapat diwujudkan dengan cara saling
mengusahakan untuk memahami perbedaan
yang ada dan pandangan antara satu sama lain. Pahami bahwa setiap individu memiliki latar
belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang berbeda. Maka tetaplah saling dan
saling