Pada Jumat malam, 06 Maret
2026, bertepatan dengan 17 Ramadan 1447 Hijriah, adalah waktu untuk
memperingati malam Nuzulul Quran, yang berdasarkan pendapat mayoritas ulama,
terjadi kurang lebih pada 14 abad yang lalu.
Malam Nuzulul Quran sering
diartikan sebagai malam awal mula diturunkannya kitab suci Al-Qur’an, pada 17
Ramadan tahun ke-2 Hijriah, kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur,
melalui perantara Malaikat Jibril. Pada saat itu, ayat-ayat awal yang diturunkan
adalah surah Al-‘Alaq ayat 1-5.
Atas peristiwa tersebut yang begitu
agung, mayoritas umat Islam di seantero dunia, memperingati Nuzulul Quran pada
malam 17 Ramadan, atau pada siang harinya, maupun pada sore harinya
(menjelang berbuka). Bahkan, ada yang memperingatinya tidak tepat pada 17
Ramadan, namun pada tanggal lainnya.
Memperingati Nuzulul Quran adalah
penanda momen penting dalam sejarah Islam, dan juga sebagai pengingat akan
pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai way of life (jalan dan
pegangan hidup) setiap Muslim, yang akan mengantarkannya kepada keselamatan dan
kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Dibalik memperingati Nuzulul Quran,
ada satu pertanyaan yang sejatinya harus menjadi renungan bagi seluruh umat
Islam. Apakah Al-Qur'an sudah termanifestasi dengan baik, sebagai way
of life dalam kehidupan seorang Muslim secara holistik?
Peristiwa Nuzulul Quran bukan
sekadar catatan kronologis dalam kalender Hijriah yang diperingati dengan
seremonial belaka. Ia adalah titik balik ontologis dalam sejarah kemanusiaan,
di mana langit "menyapa" bumi untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya tauhid yang terang benderang. Ketika Jibril
menyampaikan wahyu pertama di Gua Hira, terjadi sebuah ledakan intelektual dan
spiritual yang mengubah struktur sosial, moral, dan hukum dunia selamanya.
Allah SWT menegaskan esensi penurunan Al-Qur’an ini dalam Surah Ibrahim ayat 1,
yang menyatakan bahwa Kitab ini diturunkan agar Rasulullah SAW mengeluarkan
manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka. Ayat ini
mengisyaratkan bahwa tanpa Al-Qur’an, rasio manusia sehebat apa pun akan tetap
terjebak dalam labirin subjektivitas dan kepentingan sesaat yang menyesatkan.
Memahami Al-Qur’an sebagai way
of life menuntut kita untuk membedah konsep petunjuk (hudan) secara
kritis. Al-Qur’an tidak hadir sebagai buku mantra yang pasif, melainkan sebagai
teks yang hidup dan berdialog dengan realitas. Sebagai petunjuk bagi seluruh
umat manusia, Al-Qur’an menawarkan kerangka berpikir yang melampaui batas ruang
dan waktu.
Hal ini selaras dengan firman Allah
dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menyebutkan bahwa bulan Ramadan adalah
bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan
mengenai petunjuk tersebut, dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Di
sini, Al-Qur’an memosisikan dirinya sebagai standar kebenaran absolut (Al-Furqan).
Dalam konteks modernitas yang penuh dengan relativisme moral, Al-Qur’an hadir
memberikan jangkar etika yang kokoh agar manusia tidak terombang-ambing oleh
arus ideologi yang sering kali menafikan eksistensi pencipta.
Kekuatan Al-Qur’an yang mampu
bertahan sepanjang zaman terletak pada mukjizat bahasa dan kedalaman maknanya
yang tidak pernah kering. Al-Qur’an memiliki elastisitas interpretasi yang
memungkinkannya menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri orisinalnya.
Fenomena ini sering disebut oleh para ulama sebagai sholihun likulli zamanin
wa makanin (layak untuk setiap zaman dan tempat). Rasionalitas Al-Qur’an
teruji ketika ia berbicara tentang alam semesta, embriologi, hingga tatanan
ekonomi sosial, yang ribuan tahun kemudian baru mampu dibuktikan oleh sains
modern.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis
yang diriwayatkan oleh Tirmidzi menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah tali Allah
yang kokoh, barangsiapa yang mengucapkannya maka ia benar, barangsiapa yang
mengamalkannya maka ia diberi pahala, dan barangsiapa yang memutuskan perkara
dengannya maka ia adil. Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah manual
prosedur bagi manusia jika ingin mencapai harmoni dalam hidup.
Secara kritis, kita harus melihat
bahwa krisis yang dialami umat Islam hari ini sering kali berakar pada jarak
antara teks Al-Qur’an dan realitas perilaku. Menjadikan Al-Qur’an sebagai way
of life bukan berarti menghafalnya tanpa memahami konteks, atau
menjadikannya hiasan dinding tanpa mengimplementasikan nilai keadilannya.
Al-Qur’an menuntut pembacanya untuk tadabbur, yaitu melakukan perenungan
mendalam terhadap setiap ayat. Allah berfirman dalam Surah Sad ayat 29 bahwa
Kitab ini diturunkan dengan penuh berkah agar manusia merenungkan ayat-ayat-Nya
dan agar orang-orang yang memiliki pikiran jernih mendapat pelajaran. Tanpa
proses intelektual ini, Al-Qur’an hanya akan menjadi artefak sejarah, padahal
ia adalah wahyu yang seharusnya menggerakkan sejarah. Transformasi sosial yang
dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam waktu singkat adalah bukti nyata bahwa ketika
Al-Qur’an dijadikan dasar sosiopolitik dan spiritual, ia mampu melahirkan
peradaban emas.
Keabadian Al-Qur’an juga tercermin
dalam jaminan pemeliharaan dari Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Surah
Al-Hijr ayat 9, "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti
Kami pula yang memeliharanya." Pemeliharaan ini bukan hanya pada teksnya
yang tidak berubah satu huruf pun sejak 14 abad silam, tetapi juga pada
relevansi pesannya. Di tengah gempuran teknologi informasi dan kecerdasan
buatan, Al-Qur’an tetap memberikan jawaban atas kegelisahan eksistensial
manusia mengenai makna hidup dan tujuan akhir. Ia mengarahkan manusia agar
tidak menjadi hamba bagi materi, melainkan menjadi khalifah yang memakmurkan
bumi dengan nilai-nilai ketuhanan. Dengan demikian, Nuzulul Quran harus
dimaknai sebagai momentum reintegrasi Al-Qur’an ke dalam setiap helaan napas
kehidupan kita, baik dalam skala individu, keluarga, maupun bernegara.
Akhirnya, perjalanan manusia menuju
masa depan akan selalu membutuhkan cahaya pemandu agar tidak terperosok ke
dalam jurang nihilisme. Al-Qur’an adalah "surat cinta" dari Sang
Pencipta yang membimbing hamba-Nya untuk mengenali potensi diri dan penciptanya.
Sebagaimana pesan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim, "Bacalah
Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi
syafaat bagi pembacanya." Syafaat ini tidak hanya berlaku di akhirat,
tetapi juga berupa ketenangan jiwa (sakinah) dan kejernihan berpikir di
dunia. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orbit kehidupan, kita tidak
hanya memperingati turunnya wahyu secara historis, tetapi kita sedang
menghidupkan wahyu tersebut dalam dinamika zaman yang terus berubah, memastikan
bahwa kompas Ilahiyah ini tetap menuntun kita menuju ridha-Nya.
Penulis : H. Abdul Yajid Lingga,
S.Ag., MM – Penghulu Ahli Madya/ Ka KUA Sidikalang, Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Dairi , Ketua Cabang APRI Dairi