Muflis: Ketika yang “Fals” Bukan Dompet, tetapi Pahala

Kalau dompet kosong, kita masih tahu bagaimana rasanya menjadi “fals”. Kita bisa bekerja lagi, menabung kembali, atau mencari jalan untuk bangkit.

Tetapi bagaimana jika yang kosong bukan dompet? Bagaimana jika yang habis justru sesuatu yang selama ini kita kumpulkan sedikit demi sedikit: pahala?

Pertanyaan itu terasa berbeda ketika kita membaca hadis Rasulullah ﷺ tentang muflis—orang yang bangkrut.

Dalam percakapan sehari-hari, muflis mungkin terdengar seperti persoalan ekonomi. Dalam bahasa Arab, istilah ini berkaitan dengan fals, yaitu uang bernilai kecil. Namun Rasulullah ﷺ membawa kita pada makna kebangkrutan yang jauh lebih dalam.

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab bahwa orang yang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki dirham maupun harta. Namun jawaban Rasulullah ﷺ ternyata berbeda. Beliau menjelaskan tentang seseorang yang datang pada hari kiamat membawa salat, puasa, dan zakat. Ia datang bukan dengan tangan kosong. Ada banyak kebaikan yang pernah dikerjakannya. Tetapi di sisi lain, ia juga pernah mencaci, menuduh, mengambil harta orang lain, menyakiti, atau berbuat zalim kepada sesamanya. Kemudian pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Ketika pahala itu habis sementara persoalannya belum selesai, dosa orang-orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya. (HR. Muslim no. 2581)

Membaca hadis ini, rasanya sulit untuk tidak berhenti sejenak. Seseorang ternyata bisa datang membawa banyak amal, tetapi tetap disebut muflis. Barangkali di sinilah letak bagian paling menarik dari hadis tersebut.

Ternyata kehidupan manusia tidak hanya tentang apa yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan terhadap orang lain.

Hadis ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin tidak sedang berada di medan perang, tidak sedang berhadapan dengan persoalan besar, bahkan mungkin merasa hidup berjalan biasa-biasa saja. Tetapi setiap hari kita memegang amanah. Ada yang mengelola uang, ada yang mengurus administrasi, ada yang melayani masyarakat dan ada yang mengambil keputusan, ada pula yang dipercaya mengelola sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.

Di situlah integritas menemukan bentuknya yang paling sederhana. Bukan pada kata-kata besar, tetapi pada keputusan kecil yang terkadang hanya diketahui oleh diri sendiri.

Integritas Mungkin Sesederhana Ini

Ketika Amanah yang Diambil adalah Milik Banyak Orang Kita ambil contoh yang paling dekat dengan pembicaraan tentang integritas: korupsi. Ketika uang negara disalahgunakan, yang terlihat mungkin hanya angka dalam sebuah laporan. Seratus ribu, Satu juta, Seratus juta, atau angka yang jauh lebih besar. Namun di balik angka tersebut ada cerita yang lebih panjang. Bisa jadi ada anggaran pelayanan masyarakat. Ada fasilitas yang seharusnya dibangun. Ada program yang seharusnya berjalan. Ada kebutuhan orang banyak yang semestinya mendapatkan perhatian.

Karena itu, penyalahgunaan hakpublik bukan hanya soal berkurangnya sejumlah angka dalam kas negara. Di dalamnya ada amanah dan kepercayaan masyarakat.

Dan ketika hadis muflis dibaca dari sudut pandang ini, pesannya terasa semakin dekat. Kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana persisnya setiap perkara akan berlangsung di akhirat—itu adalah urusan Allah. Tetapi hadis tersebut memberi sebuah gambaran yang sangat jelas: hak manusia memiliki tempat yang serius dalam pertanggungjawaban seseorang.

Ada hal menarik lainnya dari hadis ini. Orang yang disebut muflis bukanlah orang yang tidak pernah berbuat baik. Ia salat, ia berpuasa, ia membayar zakat, namun pada saat yang sama, ada hak manusia yang belum selesai. Seolah-olah hadis ini mengajak kita melihat kesalehan dari sudut yang sedikit berbeda. Kesalehan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di masjid. Ia juga terlihat ketika seseorang berada di tempat kerja. Ketika memegang uang yang bukan miliknya. Ketika memiliki kewenangan. Ketika berhadapan dengan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan apa pun kepadanya. Dan ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan diketahui siapa pun. Di ruang-ruang seperti itulah integritas menjadi nyata. Kita sering menghitung kebaikan yang sudah dilakukan. Berapa kali bersedekah, berapa banyak membaca Al-Qur'an, berapa banyak puasa, berapa banyak amal yang berhasil dikerjakan. Semua itu tentu memiliki tempatnya sendiri. Namun hadis muflis seperti mengajak kita menambahkan satu pertanyaan lagi:

“Apakah ada hak orang lain yang masih tertinggal karena perbuatan kita?”
Pertanyaan itu bisa terasa sangat sederhana. Tetapi jawabannya mungkin tidak selalu mudah. Mungkin ada ucapan yang pernah menyakiti seseorang. Ada amanah yang pernah kita abaikan. Ada hak yang pernah kita ambil. Atau ada keputusan yang pernah kita buat tanpa cukup mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Dan mungkin, di situlah perjalanan memperbaiki diri sebenarnya dimulai.Bukan dengan merasa paling baik.Tetapi dengan berani melihat kembali apa yang pernah kita lakukan.

Pada akhirnya, integritas tidak selalu membutuhkan kalimat yang rumit. Kadang ia hadir dalam keputusan sederhana: Mengembalikan sesuatu yang bukan hak kita. Mengatakan apa adanya meskipun tidak ada yang memeriksa. Tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Memperlakukan orang lain dengan adil. Dan merasa bahwa sebuah amanah tetap memiliki pemilik, meskipun untuk sementara berada di tangan kita.

Mungkin kita tidak memiliki amal sebanyak orang-orang saleh. Tetapi kita tentu berharap ketika tiba waktunya menghadap Allah, amal yang telah kita kumpulkan tidak perlu berpindah tangan karena ada hak manusia yang belum kita selesaikan. Sebab kebangkrutan dunia masih memungkinkan seseorang untuk memulai kembali. Tetapi hadis tentang muflis mengajak kita membayangkan sebuah kebangkrutan yang jauh lebih dalam: datang membawa banyak kebaikan, tetapi kehilangan kebaikan itu karena apa yang pernah kita lakukan kepada sesama. Barangkali karena itu, menjaga amanah bukan sekadar bagian dari etika pekerjaan. Ia adalah bagian dari perjalanan kita menjadi manusia yang baik.

Bukan hanya banyak berbuat baik, tetapi juga berusaha agar kebaikan itu tidak hilang karena kezaliman yang kita lakukan kepada orang lain. (Ahmad Khairudin) Referensi: HR. Muslim no. 2581, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tentang al-muflis (orang yang bangkrut).


Bagikan Artikel