Banjarnegara - Lahir di Pemalang
pada tahun 1975, Moh. Daproji tumbuh di tengah keluarga yang penuh kasih sayang
dan nilai-nilai kesederhanaan. Meski hidupnya tidak selalu mudah, semangatnya
untuk terus belajar dan berjuang tidak pernah padam. Setelah menyelesaikan pendidikan
di Madrasah Aliyah Negeri Bekasi pada tahun 1994, ia melanjutkan perjalanan
ilmiahnya ke Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang sebuah tempat yang kelak
membentuk karakter religius, sabar, dan teguh yang ia miliki hingga hari ini.
Tahun 2002 menjadi titik awal
pengabdian Daproji di masyarakat. Ia mengikuti program Dai Romadlon dan
ditugaskan selama sebulan di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan,
Banjarnegara. Tak disangka, langkah kecil itu mengantarnya pada keputusan
besar: menetap di Banjarnegara dan melanjutkan perjuangan di sana. Pada tahun
pertamanya, ia fokus mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan majelis
taklim, memberi cahaya ilmu kepada generasi kecil dan masyarakat sekitar.
Pada tahun kedua, tepatnya 2003,
Daproji mulai mencoba berbagai usaha sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup.
Ia memulai dari mencari pasir di sungai, kemudian mencoba membudidayakan lebah
madu dan beternak kelinci. Meski belum membuahkan hasil, ia tidak pernah
menganggap itu sebagai kegagalan. Baginya, kegigihan dan keberanian mencoba
adalah kemenangan tersendiri. Tahun keempat, ia bekerja sebagai pelayan toko
perabot rumah tangga peran sederhana, namun dijalaninya dengan penuh rasa
syukur.
Setelah bertahun-tahun tinggal di
Susukan, Daproji akhirnya menemukan tambatan hatinya dan membangun keluarga
kecil yang penuh kasih. Tanggung jawab dan kebutuhan hidup yang meningkat
membuatnya terus berikhtiar mencari penghasilan tambahan. Ia mencoba menjual es
gosrok, batagor, hingga aksesori keliling. Namun karena kesibukannya mengajar
di TPQ, usaha itu perlahan ia tinggalkan dan ia kembali pada pekerjaan
sebelumnya.
Tahun 2016 menghadirkan kabar baik.
Ada lowongan sebagai Penyuluh Agama Islam honorer di KUA Susukan. Ia mendaftar
dan—alhamdulillah—diterima. Meski honor yang diterimanya belum mencukupi
kebutuhan keluarga, ia tetap bersyukur dan tetap bekerja di toko perabot untuk
menambah penghasilan.
Namun tahun 2018 datang membawa
ujian besar. Dalam perjalanan menuju rumah pelanggan toko perabot, ia mengalami
kecelakaan yang menyebabkan luka parah pada kaki kanannya. Dokter memutuskan
amputasi di bawah lutut sebagai pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawanya.
Dunia seakan runtuh seketika. Kesedihan menghinggapi keluarganya, memikirkan
masa depan Daproji sebagai penyandang disabilitas.
Namun di tengah kesedihan itu,
Daproji berdiri paling tegar. Ia menenangkan keluarganya dengan kata penuh
iman:
“Kita harus husnudzon kepada Allah.
Di balik setiap takdir pasti ada hikmah. Allah tidak akan menguji hamba-Nya
melebihi batas kemampuannya”
Kalimat itu bukan sekadar
penghiburan tetapi prinsip hidup yang benar-benar ia pegang.
Setelah amputasi, Daproji tidak menyerah. Ia belajar menyesuaikan diri dengan kaki palsu yang membantunya beraktivitas di luar rumah dan di kantor. Di rumah, ia menggunakan alat bantu agar tetap bisa bergerak. Untuk menunjang mobilitas, ia memodifikasi motor roda dua menjadi motor roda tiga—bukti bahwa kreativitas dan tekad mampu mengatasi keterbatasan fisik.
Tak berhenti di sana, Daproji
mengikuti kursus menjahit. Ia membuat kesed, cempal, dan berbagai produk dari
perca kain. Meski sederhana, karya-karyanya menjadi simbol kemandirian dan
kerja kerasnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya
berbuah manis. Pada tahun 2025, Daproji resmi diangkat sebagai Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) di KUA Susukan sebagai
Pengadministrasi Perkantoran. Dalam perannya ini, kondisinya sebagai penyandang
disabilitas justru menjadi dorongan baginya untuk lebih teliti dan fokus. Ia
ditugaskan untuk melakukan digitalisasi dokumen-dokumen KUA, pekerjaan penting
yang tidak membutuhkan mobilitas tinggi, namun membutuhkan ketelitian dan
tanggung jawab.
Dengan penuh dedikasi, ia menata,
memindai, dan menyelamatkan dokumen-dokumen lama, termasuk register nikah yang
sudah rapuh dimakan usia. Berkat kerja kerasnya, arsip-arsip berharga itu kini
tersimpan rapi dalam bentuk digital dan mudah diakses kapan saja dibutuhkan.
Kisah hidup Moh. Daproji adalah
bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa membatasi kualitas diri
seseorang. Dengan semangat pantang menyerah, pikiran yang positif, kemampuan
melihat hikmah di balik ujian, serta keyakinan kepada takdir Allah, ia
membuktikan bahwa siapa pun dapat mencapai hal-hal luar biasa.
Hidup memang penuh ujian—namun
dengan kesabaran, syukur, dan usaha tanpa henti, setiap tantangan dapat menjadi
batu loncatan menuju keberhasilan.
Moh. Daproji telah membuktikan bahwa
“Disabilitas Juga Bisa Berkualitas”