Setiap
tahun, Allah menghadirkan satu bulan yang berbeda dari bulan-bulan lainnya.
Bulan itu bukan sekadar pergantian tanggal dalam kalender hijriyah, melainkan
musim kebaikan, ladang pahala, dan kesempatan emas untuk kembali kepada-Nya.
Bulan itu adalah Ramadan.
Ramadan
datang membawa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di dalamnya
terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya doa-doa diijabah,
pahala dilipatgandakan, dan pintu-pintu surga dibuka lebar.
Namun,
Ramadan bukan hanya tentang suasana religius, buka puasa bersama, atau tradisi
tahunan. Ramadhan adalah momentum perubahan. Ia adalah madrasah yang melatih
kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.
Dalam
menyambut bulan suci ini, Abuya Al-Habib Abdullah Baharun memberikan wasiat
yang singkat namun sangat mendalam: “Jagalah waktumu, jagalah hatimu, jagalah
lisanmu, dan jangan engkau sibukkan waktumu dengan keburukan.”
Wasiat
yang pertama adalah dalam Menjaga Waktu. Waktu adalah nikmat yang paling
sering dilalaikan. Ia berjalan tanpa suara, tanpa bisa dihentikan, dan tanpa
bisa diulang. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang berkurang.
Ramadan
adalah waktu yang sangat mahal. Ia hanya datang sekali dalam setahun. Bahkan
tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu kembali dengannya di tahun depan.
Betapa banyak orang yang Ramadan tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini
telah kembali kepada Allah. Rasulullah bersabda: “Dua nikmat yang banyak
manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Menjaga
waktu di bulan Ramadan berarti menyadari bahwa setiap menit memiliki nilai
ibadah. Bahkan tidur orang yang berpuasa bernilai pahala. Namun, itu bukan
alasan untuk bermalas-malasan.
Ramadan
adalah bulan percepatan. Jika di bulan biasa kita membaca Al-Qur’an satu
halaman sehari, maka di bulan ini kita tingkatkan menjadi satu juz atau lebih.
Jika di bulan biasa kita jarang bangun malam, maka di bulan ini kita latih diri
untuk bangun sebelum sahur dan bermunajat kepada Allah. Firman Allah: “Bulan
Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi manusia”. (QS. Al-Baqarah: 185)
Abuya
mengingatkan: “Sibukkan waktumu dengan kebaikan. Jika tidak, maka waktu itu
akan sibuk dengan keburukan.”
Waktu
yang kosong tanpa arah sering kali diisi dengan hal-hal yang melalaikan: media
sosial berlebihan, tontonan tanpa manfaat, perbincangan yang tidak perlu,
bahkan maksiat yang merusak pahala puasa.
Ramadan adalah kesempatan emas. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan
nyata dalam hidup kita.
Wasiat Kedua Adalah Menjaga Hati. Hati adalah raja dalam
diri manusia. Ia menentukan arah hidup, kualitas ibadah, dan kedekatan dengan
Allah. Jika hati bersih, maka amal menjadi ringan. Jika hati kotor, maka ibadah
terasa berat. “Ketahuilah, dalam
jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia
rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Berapa
banyak orang yang berpuasa, tetapi hatinya masih dipenuhi amarah dan kebencian?
Berapa banyak yang membaca Al-Qur’an, tetapi masih sulit memaafkan? Ramadan seharusnya menjadi momen
rekonsiliasi hati. Memaafkan sebelum meminta maaf. Membersihkan sebelum
dibersihkan. Menjaga hati berarti: Memperbaiki niat dalam setiap amal, Menghadirkan rasa diawasi oleh Allah, Memperbanyak istighfar, Menumbuhkan rasa Syukur. Mendoakan kebaikan bagi orang lain
Hati
yang bersih akan mudah tersentuh ayat-ayat Allah. Hati yang bersih akan mudah
menangis dalam doa. Hati yang bersih akan merasakan manisnya sujud. Jika kita ingin Ramadan terasa indah,
maka bersihkan hati sebelum memasuki hari-harinya. Allah berfirman: “Pada hari
ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada
Allah dengan hati yang bersih.”(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Wasiat terakhir Adalah Menjaga Lisan.
Lisan
adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan lisan,
seseorang bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah. Dengan lisan pula,
seseorang bisa terjerumus dalam dosa yang besar.
Ramadan
adalah bulan latihan pengendalian diri, termasuk dalam berbicara. Tidak cukup
hanya menahan makan dan minum, tetapi juga harus menahan ucapan. Menjaga lisan
berarti: Menghindari ghibah (membicarakan keburukan orang lain), Menjauhi
fitnah dan adu domba, Tidak berkata kasar atau menyakiti, Tidak berdebat tanpa
manfaat, Mengisi lisan dengan dzikir dan shalawat.
Berapa
banyak pahala puasa yang hilang karena satu kalimat yang tidak dijaga? Betapa
mudahnya jari mengetik komentar yang menyakitkan, terutama di era media sosial.
Rasulullah bersabda dalam hadisnya: “Barang siapa yang tidak meninggalkan
perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh pada puasanya dari
makan dan minum.”(HR. Bukhari)
Ramadan
mengajarkan kita untuk berpikir sebelum berbicara. Jika tidak bermanfaat, lebih
baik diam. Diam yang diniatkan karena Allah adalah ibadah. Lisan yang dipenuhi dzikir akan menghadirkan ketenangan dalam
jiwa. Lisan yang terbiasa bershalawat akan melembutkan hati. Namun setiap orang mampu untuk
meninggalkan maksiat.
“Jika
belum mampu banyak bersedekah, jangan mencuri. Jika belum mampu lama berzikir,
jangan mencela. Jika belum mampu
rajin tahajud, jangan membuka pintu dosa”.
Ramadan adalah tentang perbaikan bertahap. Allah tidak melihat seberapa
besar amal kita, tetapi seberapa tulus usaha kita untuk berubah.
Kesimpulan : Ramadan Sebagai Titik
Balik Kehidupan
Setiap
Ramadan seharusnya lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Jika tidak ada
peningkatan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: di mana letak
kesalahan kita? Jangan sampai
Ramadhan hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa bekas. Jadikan ia
sebagai titik balik:
“Dari
lalai menjadi sadar, dari malas menjadi rajin, dari keras hati menjadi lembut,
dari sibuk dunia menjadi dekat dengan Allah”. “Jagalah waktu agar hidupmu
bernilai, Jagalah hati agar ibadahmu diterima, Jagalah lisan agar pahalamu
tidak hilang”.
Semoga
Ramadan kali ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita. Ramadan yang
meninggalkan bekas dalam akhlak, dalam ibadah, dan dalam kedekatan kita kepada
Allah. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkan wasiat mulia ini dan
menjadikan kita hamba-hamba yang keluar dari Ramadan dalam keadaan suci dan
lebih baik dari sebelumnya dan istiqomah setelahnya.
Oleh : Muhammad Rifai, S.H., Penulis
adalah Penghulu Ahli Pertama di KUA Tuhemberua, Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Nias Utara