Membumikan Nilai Kesantrian di Tengah Perubahan Zaman

Membumikan Nilai Kesantrian di Tengah Perubahan Zaman

oleh: H. Haris Rihandoko, S.Ag., M.M

  

Pendahuluan

Zaman terus berubah, teknologi semakin maju, informasi semakin mudah diakses, dan gaya hidup masyarakat juga ikut berkembang. Perubahan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan, terutama dalam menjaga akhlak, sopan santun, dan nilai-nilai agama. 

Di tengah perubahan tersebut, nilai-nilai kesantrian tetap penting untuk kita jaga. Sebab, menjadi santri bukan hanya tentang belajar di pondok pesantren, memakai sarung, peci, atau menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, santri adalah tentang bagaimana seseorang menjadikan ilmu, iman, dan akhlak sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Lalu, bagaimana cara membumikan nilai kesantrian di zaman sekarang? Apakah nilai-nilai pesantren masih relevan dengan kehidupan modern? Tentu saja masih. Justru, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat membutuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu membawa manfaat bagi sesama.

1. Memahami Makna Santri

Secara sederhana, santri adalah orang yang belajar ilmu agama, terutama melalui pendidikan pesantren. Namun, makna santri tidak cukup hanya dilihat dari tempat seseorang menuntut ilmu. Yang lebih penting adalah nilai-nilai yang dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Santri dididik untuk menghormati guru, menyayangi orang tua, menghargai sesama, hidup sederhana, disiplin, mandiri, serta membiasakan diri dengan ibadah dan akhlak yang baik. Dengan kata lain, santri bukan hanya orang yang pandai membaca kitab, tetapi juga orang yang berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Ilmu yang tinggi harus melahirkan sikap rendah hati. Banyaknya hafalan Al-Qur’an harus mendorong seseorang untuk semakin dekat dengan Allah dan semakin baik kepada sesama. Begitu pula ilmu agama yang luas seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan mudah menyalahkan orang lain. Inilah makna penting pendidikan pesantren: membentuk manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga baik perilakunya.

2. Implementasi Sikap Santri di Zaman Sekarang

Nilai kesantrian tidak boleh berhenti sebagai kenangan ketika seseorang masih berada di pesantren. Nilai tersebut harus tetap hidup di mana pun santri berada, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun media sosial.

Berikut beberapa contoh penerapannya.

A. Menjaga Adab di Mana Saja

Salah satu ciri penting seorang santri adalah menjaga adab. Adab kepada guru, orang tua, teman, tetangga, dan siapa pun yang ditemui. Di zaman sekarang, menjaga adab tidak hanya dilakukan ketika bertemu langsung. Saat menggunakan media sosial pun kita harus tetap menjaga perkataan, tidak menghina, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Jangan sampai seseorang terlihat santun di hadapan guru, tetapi kasar ketika berkomentar di media sosial. Adab itu tidak mengenal tempat. Di dunia nyata maupun dunia digital, seorang santri tetap harus menjaga akhlaknya.

B. Memanfaatkan Teknologi untuk Kebaikan

Perkembangan teknologi tidak perlu ditakuti atau ditolak. Justru, teknologi bisa menjadi sarana untuk belajar, berdakwah, berbisnis, dan menyebarkan kebaikan.

Santri zaman sekarang harus mampu memanfaatkan internet dan media sosial secara bijak. Misalnya, membagikan kajian yang bermanfaat, membuat konten edukasi, mencari referensi ilmu yang tepercaya, atau mengembangkan usaha melalui media digital. Namun, jangan sampai teknologi justru membuat kita lalai beribadah, menghabiskan waktu tanpa manfaat, atau mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya. Santri boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus tetap memiliki pegangan nilai agama.

C. Tetap Menghormati Orang Tua dan Guru

Menghormati guru dan berbakti kepada orang tua merupakan nilai yang sangat dekat dengan kehidupan santri. Di tengah zaman yang semakin terbuka, setiap orang boleh memiliki pendapat dan pemikiran sendiri. Namun, kebebasan berpendapat harus tetap disertai kesopanan.

Berbeda pendapat dengan guru bukan berarti boleh merendahkan. Memiliki ilmu yang lebih luas dalam bidang tertentu bukan berarti merasa lebih hebat daripada orang yang telah membimbing kita. Sikap hormat bukan berarti kita tidak boleh bertanya atau berpikir kritis. Justru, kita bisa berdiskusi dan mencari pemahaman yang lebih baik dengan tetap menjaga adab.

D. Menjaga Ibadah di Tengah Kesibukan

Kesibukan zaman sekarang sering membuat orang sulit mengatur waktu. Pekerjaan, sekolah, bisnis, dan penggunaan gawai terkadang membuat ibadah menjadi kurang diperhatikan. Di sinilah nilai kesantrian perlu terus dijaga. Salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan membiasakan perilaku baik harus tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tidak harus menunggu menjadi orang alim untuk memperbaiki diri. Mulailah dari hal sederhana, seperti menjaga salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, berkata jujur, dan menepati janji. Sebab, kesalehan bukan hanya terlihat ketika seseorang berada di masjid atau pesantren, tetapi juga ketika ia bekerja, berdagang, dan berinteraksi dengan orang lain.

E. Menjadi Pribadi yang Jujur dan Amanah

Nilai kesantrian juga harus terlihat dalam urusan pekerjaan dan kehidupan ekonomi. Santri yang menjadi pedagang hendaknya jujur kepada pembeli. Santri yang menjadi pegawai hendaknya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Santri yang menjadi pemimpin hendaknya adil dan tidak menyalahgunakan amanah.

Jangan sampai seseorang pandai berbicara tentang agama, tetapi tidak jujur dalam urusan pekerjaan. Jangan sampai seseorang terlihat religius, tetapi mengabaikan tanggung jawabnya. Ukuran baiknya seseorang bukan hanya dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari bagaimana ia menjalankan tanggung jawabnya. Inilah bentuk nyata dari ilmu agama yang diamalkan dalam kehidupan.

F. Hidup Sederhana dan Tidak Mudah Terbawa Gaya Hidup

Saat ini, media sosial sering menampilkan kehidupan yang serba mewah. Hal tersebut terkadang membuat orang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa harus mengikuti gaya hidup yang sama.

Padahal, salah satu nilai yang diajarkan di pesantren adalah kesederhanaan. Hidup sederhana bukan berarti tidak boleh sukses atau memiliki harta. Sederhana berarti mampu menempatkan sesuatu secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak menjadikan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan.

Santri boleh menjadi orang sukses, memiliki usaha, meraih jabatan, dan hidup berkecukupan. Namun, keberhasilan itu hendaknya tetap disertai rasa syukur, kepedulian, dan kesediaan untuk berbagi.

G. Peduli kepada Masyarakat

Santri tidak hanya diharapkan baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Di lingkungan masyarakat, nilai kesantrian dapat diwujudkan dengan membantu tetangga, mengajar mengaji, terlibat dalam kegiatan sosial, menjaga kebersihan lingkungan, serta ikut menyelesaikan persoalan masyarakat dengan cara yang baik.

Tidak semua santri harus menjadi kiai atau ustaz. Santri bisa berkiprah di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, teknologi, dan dunia usaha. Apa pun profesinya, nilai-nilai pesantren harus tetap menjadi pedoman.

Dengan demikian, santri dapat hadir sebagai pribadi yang religius sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

3. Menjadi Santri yang Terbuka terhadap Perubahan

Menjaga nilai kesantrian bukan berarti menolak semua hal baru. Ada banyak perkembangan zaman yang membawa manfaat dan perlu kita pelajari. Santri perlu memiliki semangat belajar, keterampilan, wawasan luas, serta kemampuan beradaptasi. Ilmu agama harus menjadi pegangan, sementara ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Kita tidak ingin santri tertinggal karena enggan belajar hal baru. Namun, kita juga tidak ingin santri kehilangan jati diri hanya karena ingin mengikuti tren. Karena itu, yang perlu dijaga adalah keseimbangan: terbuka terhadap kemajuan, tetapi tetap teguh dalam prinsip; mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tidak melupakan adab; meraih kesuksesan dunia, tetapi tetap memperhatikan bekal akhirat.

Jangan sampai kita kehilangan kesempatan untuk maju karena menolak perubahan, tetapi jangan pula kehilangan jati diri karena mengikuti perubahan.

Penutup

Membumikan nilai kesantrian di tengah perubahan zaman sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Menjaga salat, menghormati orang tua dan guru, berkata jujur, menggunakan media sosial dengan bijak, bekerja dengan amanah, serta peduli terhadap sesama merupakan contoh nyata yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Nilai-nilai tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang pernah belajar di pesantren, tetapi juga oleh seluruh masyarakat

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan pesantren bukan hanya diukur dari banyaknya ilmu yang dikuasai atau tingginya prestasi yang diraih, melainkan juga dari sejauh mana ilmu itu membentuk akhlak dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Mari kita jadikan nilai kesantrian bukan sekadar identitas, melainkan pedoman hidup. Bukan hanya dikenang sebagai tradisi pesantren, tetapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Santri yang baik bukan hanya yang mampu menjaga nama baik pesantren, tetapi juga yang mampu membawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat melalui ilmu, akhlak, dan karya nyata. Sebab, di tengah zaman yang terus berubah, ilmu dan teknologi memang penting, tetapi akhlak tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang lebih baik. (Humas PP APRI)


  ⃰Penulis adalah Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Semanding Tuban Jawa Timur.  


Bagikan Artikel