Sidikalang, (Humas). Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi PAI KUA Kecamatan Sidikalang untuk mengajak generasi muda tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan akhlak. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam (PAI) KUA Sidikalang, PAIDI, S.Ag., saat menyampaikan tausyiah Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Fard Ahillah, Selasa (15/9/2026).
Di hadapan para pelajar, PAIDI mengajak peserta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun karakter sejak usia muda. Menurutnya, Rasulullah merupakan sosok yang menunjukkan bahwa kecerdasan, keberanian, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama harus berjalan bersama dalam kehidupan.
PAIDI menekankan bahwa salah satu keteladanan Rasulullah yang paling relevan bagi pelajar adalah kejujuran. Kejujuran tidak hanya diperlukan dalam perkataan, tetapi juga dalam belajar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, maupun menggunakan teknologi dan media sosial. โPrestasi itu penting, tetapi prestasi tanpa akhlak tidak cukup. Jadilah pelajar yang berilmu sekaligus jujur, santun, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain,โ pesannya.
Ia juga mengajak para pelajar meneladani semangat Rasulullah SAW dalam menuntut ilmu dan menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, proses belajar tidak selalu mudah, sehingga diperlukan kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.ย

Dalam konteks pergaulan, PAIDI mengingatkan pelajar agar mampu memilih lingkungan yang baik. Teman memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan karakter seseorang. Karena itu, semangat persahabatan hendaknya dibangun dengan saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan mendorong kepada perilaku yang merugikan diri sendiri.
PAIDI juga menyinggung penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Ia mengajak peserta meneladani Rasulullah dengan menjaga lisan dan sikap, termasuk ketika berkomunikasi di ruang digital. Setiap informasi yang diterima perlu disaring dan setiap unggahan maupun komentar harus dipertimbangkan agar tidak menyakiti atau merugikan orang lain.
Menurutnya, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak ungkapan kecintaan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti akhlak dan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pelajar, kecintaan tersebut dapat diwujudkan melalui hormat kepada orang tua dan guru, disiplin belajar, menjaga pergaulan, serta peduli terhadap lingkungan sekitar.
Melalui tausyiah Maulid Nabi tersebut, PAIDI berharap para pelajar Yayasan Fard Ahillah dapat menjadikan momentum kelahiran Rasulullah SAW sebagai titik penguatan karakter. Ilmu menjadi bekal untuk meraih masa depan, sementara akhlak menjadi penuntun agar ilmu dan prestasi digunakan untuk kebaikan. (sam)