Tuhemberua (Humas). Mengapa penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia terkadang berbeda? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan menarik dalam Webinar Syariah Insight Room Kajian Ilmu Falak Seri 7 yang diikuti Kepala KUA Tuhemberua, Sabrun Mendrofa, S.E., bersama para penghulu melalui Zoom Meeting, Jumat (21/08).
Webinar yang mengangkat tema "Ragam Kriteria Penetapan Awal Bulan Hijriah di Indonesia” ini menjadi ruang penguatan wawasan bagi para peserta untuk memahami lebih mendalam dinamika penetapan awal bulan Hijriah, khususnya dari perspektif ilmu falak, hisab, dan rukyat.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Sesi keynote speaker diisi oleh Dr. H. Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, serta H. Ismail Fahmi, S.Ag., M.Pd., Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah. Sementara materi utama disampaikan oleh Ahmad Zulfi Aufar, M.H., dan dipandu oleh moderator A’an Anida Lathifah, S.H.
Pembahasan berlangsung secara informatif dan mendalam, mengupas beragam kriteria yang digunakan dalam menentukan masuknya awal bulan Hijriah di Indonesia. Perbedaan kriteria tersebut menjadi bagian penting untuk dipahami agar masyarakat dapat menyikapinya dengan pengetahuan yang utuh, bijak, dan tetap mengedepankan semangat persatuan.
Bagi jajaran KUA, pemahaman terhadap ilmu falak dan penetapan awal bulan Hijriah memiliki nilai strategis. Selain memperkuat kompetensi penghulu dalam memberikan layanan keagamaan kepada masyarakat, wawasan tersebut juga menjadi bekal dalam menjelaskan persoalan keagamaan secara objektif dan mencerahkan.
Kepala KUA Tuhemberua, Sabrun Mendrofa, S.E., menyambut baik kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan profesionalitas jajaran KUA. Menurutnya, perkembangan ilmu dan dinamika persoalan keagamaan menuntut aparatur Kementerian Agama untuk terus belajar dan memperluas wawasan.
“Melalui forum seperti ini, kita tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga belajar memahami perbedaan dengan perspektif keilmuan. Dengan begitu, kita dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat,” ujarnya.
Keikutsertaan KUA Tuhemberua dalam webinar ini menjadi langkah kecil untuk terus menyalakan semangat belajar sebab di balik perbedaan penetapan awal bulan Hijriah, ada ilmu yang perlu dipahami, ada hikmah yang perlu digali, dan ada persatuan yang harus tetap dijaga. (MHS/BNP)