KUA Makale Raya Dorong Pasangan Kelola Dinamika Perkawinan untuk Perkuat Ketahanan Keluarga

Makale (Humas APRI Tana Toraja) --- Perkawinan bukanlah sebuah potret yang hanya memperlihatkan satu keadaan pada satu waktu. Di balik sebuah gambar, kita tidak mengetahui kondisi sebelum maupun setelah potret diambil. Berbeda dengan potret, perkawinan merupakan sebuah proses yang terus bergerak dan berkembang, sehingga membutuhkan komitmen pasangan untuk menjalaninya bersama.

Pesan tersebut disampaikan Miftah Farid, Kepala KUA Makale Utara, saat menjadi fasilitator dalam kegiatan Bimbingan Keluarga Sakinah Maslahat yang diselenggarakan KUA Makale Raya, meliputi KUA Makale, KUA Makale Utara, dan KUA Makale Selatan, di Aula Masjid Nurul Jihad Se’pon, Rabu (5/8/2026).

Dalam sesi bertema “Mengelola Dinamika Perkawinan dan Keluarga”, Miftah mengajak delapan pasangan suami istri memahami bahwa perkawinan merupakan perjalanan yang di dalamnya terdapat perubahan, tantangan, dan berbagai dinamika. Persoalan muncul ketika pasangan menganggap tantangan tersebut sebagai alasan untuk menyerah.

“Perkawinan itu bukan seperti potret. Kalau potret, kita hanya melihat satu kondisi, sementara kondisi sebelum dan sesudahnya tidak kita ketahui. Perkawinan adalah sebuah proses. Ironisnya, banyak pasangan yang dalam proses tersebut kemudian menyerah, cepat berputus asa, dan akhirnya memilih bercerai,” jelasnya.

Untuk mencegah pasangan mudah menyerah, Miftah menjelaskan tiga komponen utama yang menopang perkawinan kokoh, yaitu komitmen, kedekatan emosional, dan gairah. Komitmen menjaga pasangan tetap berpegang pada tujuan perkawinan, kedekatan emosional membangun rasa aman dan saling percaya, sedangkan gairah menjadi bagian dari keintiman yang menjaga kehangatan hubungan suami istri.

Menurutnya, ketiga komponen tersebut perlu dijaga secara seimbang. Ketika salah satunya diabaikan, kualitas hubungan dapat menurun dan membuat pasangan semakin sulit menghadapi persoalan rumah tangga.

Selain memahami komponen hubungan, pasangan juga perlu mengenali tahap perkembangan hubungan. Miftah mengibaratkan perkawinan seperti perjalanan mudik menuju kampung halaman. Dalam perjalanan, seseorang mungkin menghadapi kemacetan, cuaca, kelelahan, atau kendala lainnya. Namun, berbagai hambatan tidak membuat perjalanan berhenti karena ada tujuan yang hendak dicapai.

“Perkawinan juga demikian. Dalam perjalanan tentu kita akan menemukan kendala. Tetapi karena kita memiliki tujuan, kita tidak serta-merta menyerah hanya karena menemukan hambatan. Kita mencari jalan keluar agar tetap bisa sampai pada tujuan,” ungkapnya.

Peserta juga diajak mengenali berbagai hal yang menjadi penghancur maupun pembangun hubungan. Menurut Miftah, hubungan tidak hanya membutuhkan kemampuan menyelesaikan konflik, tetapi juga kesadaran untuk terus memperbanyak interaksi positif yang memperkuat kepercayaan dan kedekatan pasangan.

Miftah kemudian memperkenalkan konsep “rekening bank hubungan”. Ia mengibaratkan hubungan suami istri seperti rekening bank. Semakin sering rekening ditarik tanpa diimbangi setoran, saldo akan berkurang. Jika terus dilakukan, saldo pada akhirnya akan habis.

“Hubungan juga seperti rekening bank. Semakin banyak yang kita tarik, saldo akan semakin berkurang. Kalau terus ditarik dan tidak pernah diisi kembali, lama-kelamaan akan habis dan akhirnya tutup buku. Begitu juga dalam rumah tangga. Semakin banyak hal negatif yang dilakukan kepada pasangan, semakin terkuras kepercayaan yang telah dibangun,” jelasnya.

Karena itu, pasangan perlu terus melakukan “setoran” melalui sikap saling menghargai, komunikasi yang baik, perhatian, apresiasi, dan kepedulian. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan dan memperkuat hubungan.

Melalui materi tersebut, Miftah mengajak pasangan memahami perkawinan secara lebih utuh. Setiap fase memiliki tantangan dan membutuhkan cara pengelolaan yang tepat agar pasangan tetap mampu berjalan menuju tujuan perkawinan.

Bimbingan Keluarga Sakinah Maslahat tersebut menjadi bagian dari upaya KUA Makale Raya dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pemahaman keagamaan, tetapi juga kemampuan pasangan dalam mengelola relasi, menghadapi perubahan, dan merawat kepercayaan dalam kehidupan rumah tangga. (MF)


Bagikan Artikel