Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan pembangunan mushalla memiliki arah kiblat yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara keagamaan maupun teknis. Pengukuran dilakukan dengan memperhatikan metode dan instrumen yang digunakan dalam layanan pengukuran arah kiblat.
Keterlibatan APRI Dairi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa peran penghulu tidak berhenti pada layanan pencatatan pernikahan. Melalui kompetensi dan tugas keumatan yang dimiliki, penghulu juga dapat hadir dalam memberikan layanan keagamaan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan kemasjidan dan arah kiblat.
H. Abdul Yajid Lingga mengatakan, kalibrasi arah kiblat merupakan bagian penting dalam memastikan sarana ibadah dibangun dengan orientasi yang tepat. Menurutnya, keterlibatan penghulu melalui APRI merupakan bentuk pengabdian profesi yang diarahkan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Kalibrasi arah kiblat bukan sekadar kegiatan pengukuran, tetapi bagian dari ikhtiar memastikan masyarakat memperoleh kepastian dalam pelaksanaan ibadah. Karena itu, APRI Dairi berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam layanan keumatan bersama Kementerian Agama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi antara APRI dan Bimas Islam Kemenag Dairi menjadi ruang penting untuk mengoptimalkan kompetensi penghulu dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung dalam kegiatan pengukuran arah kiblat, tetapi juga berkembang pada berbagai layanan keagamaan lainnya.
Pelaksanaan kalibrasi juga memperlihatkan pentingnya kerja bersama antara unsur teknis Kementerian Agama dan organisasi profesi penghulu. APRI Dairi berupaya menempatkan organisasi profesi bukan hanya sebagai wadah pengembangan kapasitas penghulu, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menghadirkan pelayanan keagamaan yang responsif dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, APRI Cabang Dairi menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam pelayanan umat. Keterlibatan langsung Ketua APRI Dairi bersama Bimas Islam Kemenag Dairi sekaligus menjadi bagian dari penguatan eksistensi penghulu sebagai aparatur yang memiliki peran strategis dalam pelayanan dan pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.
Ke depan, sinergi antara APRI Dairi dan Bimas Islam Kemenag Dairi diharapkan semakin memperluas ruang kolaborasi dalam layanan keumatan, termasuk penguatan tata kelola kemasjidan, wakaf, arah kiblat, serta berbagai kebutuhan keagamaan masyarakat lainnya. Dengan kolaborasi tersebut, kehadiran penghulu di tengah masyarakat diharapkan semakin dirasakan manfaatnya.