Sidikalang, (Humas). Penguatan moderasi beragama dapat dilakukan melalui pengenalan warisan budaya, pengembangan wawasan kebangsaan, dan pemberdayaan masyarakat lintas latar belakang. Semangat tersebut menjadi pesan yang disampaikan Penghulu KUA Kecamatan Sidikalang, Muhammad Hisyamsyah Dani, S.H., M.H., saat mengunjungi situs megalitikum dan desa adat Bawomataluo, wilayah kerja Kementerian Agama Kabupaten Nias Selatan, Senin (12/10/2026).
Kunjungan tersebut dilaksanakan bersama para Penghulu Ahli Pertama yang tergabung dalam Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) wilayah Kepulauan Nias, yang meliputi Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, dan Nias Utara. Selain mempererat silaturahmi, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk melihat lebih luas potensi warisan budaya sebagai sarana membangun kerukunan dan memperkuat kehidupan keagamaan yang harmonis.
Muhammad Hisyamsyah Dani menilai Bawomataluo memiliki nilai penting sebagai ruang pembelajaran sosial dan kebudayaan. Kekayaan tradisi, peninggalan megalitik, serta kehidupan masyarakat yang diwariskan lintas generasi dapat menjadi pintu masuk untuk menanamkan penghargaan terhadap identitas budaya, membangun dialog, dan memperkuat semangat kebangsaan.
Menurutnya, moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep atau materi sosialisasi, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. Pelestarian budaya, penghormatan terhadap perbedaan, penguatan persaudaraan, dan kerja sama dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan bersama yang rukun dan damai.
“Moderasi beragama perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kita dapat belajar dari kekayaan budaya Bawomataluo bahwa warisan leluhur bukan hanya peninggalan sejarah, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan penghargaan terhadap identitas, memperkuat persaudaraan, dan merawat kebersamaan dalam bingkai kebangsaan,” ungkap Muhammad Hisyamsyah.
Sementara itu, Penghulu KUA Teluk Dalam, M. Syafiq Ismail, S.Ag., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut sekaligus menjadi sarana koordinasi dan konsolidasi antar-penghulu yang bertugas di Kepulauan Nias. Pertemuan dalam suasana kebersamaan ini diharapkan memperluas wawasan para penghulu mengenai praktik moderasi beragama yang dapat dikembangkan melalui pendekatan kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa pengalaman mengunjungi situs budaya seperti Bawomataluo dapat menjadi inspirasi dalam merancang pendekatan layanan keagamaan yang lebih kontekstual. Para penghulu diharapkan mampu mengenali potensi lokal di wilayah tugas masing-masing dan menjadikannya sebagai modal sosial untuk memperkuat kerukunan serta membangun hubungan yang harmonis di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, APRI diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai wadah profesi yang tidak hanya membangun kompetensi dan solidaritas penghulu, tetapi juga mendorong inovasi pelayanan keagamaan yang berdampak langsung. Pertukaran pengalaman antarpenghulu dari berbagai wilayah Kepulauan Nias menjadi langkah strategis untuk mengembangkan gagasan bersama yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat.
Kunjungan ke Bawomataluo ini menegaskan bahwa moderasi beragama dapat diperkuat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan memadukan koordinasi profesi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan komunitas, para penghulu diharapkan mampu menghadirkan pelayanan keagamaan yang semakin inklusif, mempererat kerukunan, serta menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia. (syah)