"Yang membuat sebuah keluarga tetap dekat bukan hanya jarak, melainkan hati yang tetap tahu ke mana ia akan pulang"
Ada rumah yang lampunya tetap menyala setiap
malam, tetapi orang yang ditunggu tidak kunjung pulang.
Ada seorang istri yang terbiasa mendengar
suara suaminya sebelum tidur, tetapi kini hanya bisa mendengar suaranya melalui
telepon.
Ada anak yang mengenal ayahnya lebih banyak hanya melalui layar ponsel.
Dan ada seorang suami yang bekerja jauh dari
rumah, melewati hari-hari panjang dengan satu harapan sederhana: suatu saat
bisa kembali berkumpul bersama keluarganya.
Begitulah kehidupan sebagian keluarga hari
ini.
Ada yang merantau ke kota lain. Ada yang
bekerja di kapal. Ada yang pergi ke luar negeri. Ada yang harus bertahun-tahun
berada jauh dari istri dan anak-anak demi sebuah kehidupan yang diharapkan
lebih baik.
Jarak memang hanya angka di peta.
Tetapi bagi sebuah keluarga, jarak bisa terasa
sangat panjang.
Namun, pernahkah kita membayangkan bahwa lebih
dari seribu tahun lalu, ada sebuah keluarga yang juga harus merasakan pahitnya
perpisahan?
Namanya Ummu Salamah.
Dan kisahnya mungkin membuat kita melihat
jarak dengan cara yang berbeda.
Ummu Salamah رضي الله عنها adalah istri Abu
Salamah رضي الله عنه. Keduanya termasuk generasi awal yang memeluk Islam.
Mereka pernah hijrah bersama ke Habasyah.
Kemudian datang masa ketika kaum Muslimin diperintahkan berhijrah ke Madinah.
Abu Salamah pun bersiap membawa keluarganya.
Tetapi perjalanan yang mereka bayangkan
sebagai perjalanan bersama ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Ketika hendak berangkat, keluarga Ummu Salamah
menahan dirinya. Keluarga Abu Salamah pun mengambil anak mereka.
Akhirnya, sesuatu yang paling tidak diinginkan
sebuah keluarga terjadi.
Abu Salamah pergi ke Madinah seorang diri.
Ummu
Salamah tertinggal di Makkah.
Dan anaknya
pun terpisah darinya.
Keluarga
kecil itu terpecah.
Suami di
Madinah.
Istri di
Makkah.
Anak berada
di tempat yang berbeda.
Riwayat
tentang peristiwa ini menceritakan bahwa Ummu Salamah setiap hari pergi ke
tempat terbuka di sekitar Makkah dan menangis karena perpisahan itu. Keadaan
tersebut berlangsung sekitar satu tahun sebelum akhirnya ia mendapatkan
kesempatan untuk menyusul suaminya.
Bayangkan.
Bukan satu
malam.
Bukan satu
minggu.
Bukan pula
sekadar beberapa bulan.
Hampir
setahun menunggu.
Ada rindu yang tidak bisa diselesaikan dengan
telepon
Hari ini, ketika suami atau istri bekerja
jauh, kita masih memiliki banyak cara untuk mengurangi rasa rindu.
Ada telepon, ada video call, ada pesan yang
bisa dikirim kapan saja, foto anak bisa dikirim dalam hitungan detik.
Tetapi pada masa Ummu Salamah, tidak ada semua
itu.
Jika ingin
mengetahui keadaan suami, tidak ada pesan singkat yang bisa dikirim.
Jika ingin
melihat wajahnya, tidak ada layar yang bisa dibuka.
Yang
tersisa hanyalah penantian dan doa.
Setiap hari
Ummu Salamah menanggung kerinduan itu.
Ia bukan
hanya kehilangan kebersamaan dengan suami.
Ia juga
kehilangan kebersamaan dengan anaknya.
Barangkali inilah bagian paling mengharukan
dari kisah tersebut.
Ia tidak sedang memilih untuk meninggalkan
keluarganya. Keadaanlah yang memisahkan mereka.
Dan keadaan itu tidak berlangsung sebentar, tetapi
ia tetap bertahan.
Akhirnya, pintu itu terbuka
Setelah sekitar satu tahun, keadaan mulai
berubah.
Orang-orang dari keluarganya melihat
penderitaan Ummu Salamah dan merasa iba. Ia akhirnya diizinkan menyusul
suaminya. Keluarga Abu Salamah juga mengembalikan anaknya kepadanya.
Ummu Salamah kemudian berangkat menuju
Madinah.
Sendirian.
Membawa
anaknya.
Dengan
perjalanan panjang yang harus ditempuh.
Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Utsman
bin Thalhah. Ia mengetahui tujuan Ummu Salamah dan kemudian mengantarkannya
hingga mendekati Madinah. Dalam riwayat tersebut, Ummu Salamah memberikan
kesaksian yang sangat baik tentang kehormatan dan kebaikan Utsman bin Thalhah.
Akhirnya, perjalanan yang begitu panjang itu
sampai pada sebuah pertemuan.
Seorang
istri yang lama terpisah akhirnya kembali bertemu dengan suaminya.
Keluarga
yang sebelumnya tercerai-berai kembali berkumpul.
Mungkin
kita bisa membayangkan betapa harunya saat itu.
Setelah
berbulan-bulan menunggu.
Setelah
melewati kesepian.
Setelah
menangis karena rindu.
Akhirnya, jarak itu selesai.
Bagaimana
dengan keluarga yang merantau hari ini?
Tentu keadaan Ummu Salamah dan Abu Salamah
tidak sama persis dengan keluarga yang sekarang menjalani kehidupan jarak jauh
karena pekerjaan.
Tetapi perasaan manusia tidak banyak berubah.
Masih ada
rindu.
Masih ada
kesepian.
Masih ada
kekhawatiran.
Masih ada
hari ketika seorang istri berharap suaminya segera pulang.
Masih ada
seorang suami yang bekerja jauh sambil membayangkan anak-anaknya tumbuh di
rumah.
Dan
terkadang, justru ketika jarak berlangsung lama, persoalan kecil terasa menjadi
besar.
Pesan yang
terlambat dibalas bisa menimbulkan prasangka.
Percakapan
yang singkat bisa terasa seperti kurang perhatian.
Kesibukan yang terus-menerus dapat membuat dua
orang yang sebenarnya saling mencintai perlahan merasa asing.
Di sinilah kisah Ummu Salamah mungkin kembali
berbicara kepada kita.
Jarak tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang
jarak adalah bagian dari perjuangan sebuah keluarga.
Yang
menentukan bukan hanya berapa jauh tubuh berada, tetapi apakah hati masih
merasa berada di rumah yang sama.
Karena yang
dicari bukan sekadar uang
Bagi banyak keluarga, merantau bukanlah
pilihan yang mudah.
Ada suami
yang pergi jauh karena ingin memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ada istri
yang bekerja di negeri orang karena ingin membantu orang tua dan anak-anaknya.
Ada yang
pergi dengan membawa koper, tetapi meninggalkan bagian paling berat dari
hatinya di rumah.
Mereka tahu bahwa yang ditinggalkan bukan
sekadar rumah.
Ada
pasangan.
Ada
anak-anak.
Ada
kebiasaan-kebiasaan kecil yang harus dilewatkan.
Ada ulang
tahun yang mungkin hanya dirayakan melalui panggilan video.
Ada anak
yang tumbuh beberapa sentimeter tanpa sempat dipeluk setiap hari.
Karena itu, mungkin kita perlu melihat
perjuangan keluarga perantau dengan lebih manusiawi.
Di balik uang yang dikirim pulang setiap
bulan, mungkin ada rindu yang ikut dikirim tetapi tidak pernah bisa masuk ke
dalam rekening.
Di balik panggilan video beberapa menit,
mungkin ada seseorang yang sebenarnya ingin berbicara lebih lama, tetapi harus
kembali bekerja.
Dan di balik kalimat sederhana, “Jaga diri
baik-baik,” mungkin ada begitu banyak perasaan yang tidak sanggup
diucapkan.
Ummu
Salamah mengajarkan tentang menunggu
Kisah Ummu Salamah bukan kisah tentang
keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah.
Justru sebaliknya.
Mereka
pernah dipisahkan.
Mereka
pernah menangis.
Mereka
pernah merasakan bagaimana sebuah keluarga terasa begitu jauh.
Tetapi
kisah itu tidak berhenti pada perpisahan.
Ada
perjalanan.
Ada
kesabaran.
Ada
harapan.
Dan
akhirnya ada pertemuan.
Mungkin inilah bagian yang paling layak kita
bawa pulang dari kisah Ummu Salamah.
Bagi keluarga yang hari ini sedang menjalani
kehidupan berjauhan, mungkin tidak semua hari akan terasa mudah.
Ada malam
ketika rindu datang lebih kuat.
Ada saat
ketika komunikasi terasa tidak seperti dulu.
Ada hari
ketika jarak terasa melelahkan.
Tetapi sebuah keluarga tidak selalu diukur
dari seberapa sering mereka berada dalam satu ruangan.
Kadang ia juga terlihat dari seberapa kuat
mereka menjaga kepercayaan ketika tidak sedang saling melihat.
Dari bagaimana mereka tetap mengingat tujuan
yang sama.
Dari bagaimana mereka tetap menjadikan
keluarga sebagai tempat untuk pulang, meskipun untuk sementara waktu tubuh
belum bisa benar-benar pulang.
Ummu Salamah menunggu Abu Salamah dalam
keadaan yang jauh lebih sulit daripada zaman kita.
Tidak ada
telepon.
Tidak ada
pesan.
Tidak ada
video call.
Namun penantian itu tidak membuat kisah
keluarganya berakhir.
Ia terus melangkah sampai akhirnya menemukan
kembali suami dan keluarganya di Madinah.
Mungkin karena itu, untuk mereka yang hari ini
sedang berjauhan dengan orang yang dicintai, ada satu kalimat yang layak
disimpan:
Jarak mungkin membuat dua orang tidak bisa
duduk berdampingan, tetapi tidak harus membuat mereka berhenti berjalan menuju
tujuan yang sama.
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah
keluarga tetap dekat bukan hanya jarak yang pendek.
Melainkan hati yang tetap tahu ke mana ia
akan pulang. (Ahmad Khairudin - Penghulu KUA Batanghari)