Hikmah Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW
oleh :(Humas Lamtim)
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa
penting dalam sejarah Islam yang memiliki nilai spiritual dan teologis
mendalam. Peristiwa ini tidak hanya meneguhkan keimanan umat Islam tetapi juga
memberikan pelajaran penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari
keimanan, ibadah, hingga akhlak. .
Isra Mi'raj dalam Al-Qur'an dan Hadis
Isra
Mi’raj diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Al-Isra ayat pertama:
تَبَارَكَ
ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى
ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ
ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra: 1) [(Departemen Agama RI, 2010, Al-Qur'an dan Terjemahannya)]
Dalam
hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW
menceritakan perjalanan malam itu hingga mencapai Sidratul Muntaha dan menerima
kewajiban shalat lima waktu. Salah satunya adalah hadis dari Anas bin Malik RA:
“Lalu
Jibril membawaku naik ke Sidratul Muntaha yang daunnya seperti telinga gajah
dan buahnya seperti tempayan besar. Ketika itu Sidratul Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang hanya Allah yang mengetahuinya.” (HR. Bukhari, no. 3207; Muslim,
no. 162)
Hikmah dari Peristiwa Isra Mi'raj
1. Keteguhan
Iman
Isra
Mi’raj mengajarkan pentingnya keyakinan terhadap hal-hal ghaib. Peristiwa ini
menjadi ujian keimanan bagi umat Islam saat itu. Hanya mereka yang benar-benar
beriman yang menerima Isra Mi’raj sebagai mukjizat Rasulullah SAW. Dalam
konteks ini, hadis dari Abu Hurairah RA menegaskan:
“Jika
aku mengatakan demikian, maka itu benar. Karena aku telah diperjalankan pada
malam hari.” (HR. Bukhari, no. 3674; Muslim, no. 162)
2. Kewajiban
Shalat Lima Waktu
Peristiwa
Isra Mi’raj menjadi momentum penting ketika Rasulullah SAW menerima perintah
shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. Shalat merupakan tiang agama,
sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Shalat
adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama;
dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah merobohkan agama.” (HR.
Baihaqi, Sunan
al-Kubra, no. 18435)
Kewajiban
ini menunjukkan pentingnya shalat sebagai medium komunikasi langsung antara
hamba dan Tuhannya, sebagaimana Nabi SAW melakukan mi'raj ke langit untuk
menerima perintah ini.
3. Keutamaan
Masjid Al-Aqsa
Perjalanan
Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa menunjukkan kedudukan
penting Masjid Al-Aqsa sebagai salah satu tempat suci dalam Islam. Masjid ini
adalah kiblat pertama umat Islam dan salah satu masjid yang dimuliakan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah
kalian bersusah payah bepergian kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram,
Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsa.” (HR. Bukhari, no. 1189;
Muslim, no. 1397)
4. Keutamaan
Umat Nabi Muhammad SAW
Dalam
perjalanan Isra Mi’raj, Rasulullah SAW diberitahu bahwa umatnya diberkahi
dengan berbagai kemudahan. Salah satunya adalah kewajiban shalat lima waktu
yang pahalanya setara dengan lima puluh kali shalat. Nabi SAW bersabda:
“Allah
telah mengurangi kewajiban shalat dari lima puluh menjadi lima waktu, namun
tetap bernilai lima puluh pahala.” (HR. Bukhari, no. 3208; Muslim, no. 162)
5. Motivasi
untuk Mendalami Ilmu
Dalam
Isra Mi’raj, Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai tanda-tanda kebesaran Allah
SWT. Hal ini menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan untuk memahami ciptaan
Allah. Al-Qur’an pun memotivasi umat Islam untuk terus belajar dan mengkaji:
“…Katakanlah:
Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?…” (QS. Az-Zumar: 9) [(Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, jilid 7,
hlm. 60)]
Refleksi Spiritual dan Sosial
Isra
Mi’raj juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Kewajiban shalat melatih
kedisiplinan, keteraturan, dan kebersamaan, terutama dalam pelaksanaan shalat
berjamaah. Selain itu, peristiwa ini mengingatkan umat Islam tentang pentingnya
menjaga hubungan yang baik dengan Allah (hablum minallah) dan sesama manusia
(hablum
minannas).
Kesimpulan
Isra
Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perjalanan
spiritual yang memberikan hikmah besar bagi umat Islam. Peristiwa ini
mengajarkan keimanan, pengabdian, dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah SWT,
sekaligus memperkuat hubungan sosial antar sesama manusia melalui nilai-nilai
yang diajarkan dalam ibadah.
Referensi
1. Departemen Agama RI. (2010). Al-Qur'an dan Terjemahannya.
Jakarta: Departemen Agama.
2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
Kitab Bad’ul Khalq, Bab Isra’.
3. Muslim, Abu al-Husain. Shahih Muslim. Kitab Iman, Bab
Mi'raj.
4. Baihaqi, Ahmad bin Husain. Sunan al-Kubra. Kitab
tentang Shalat.