Medan, (Humas). Pengurus Wilayah Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (PW APRI) Sumatera Utara menyambut positif kegiatan Pembinaan ASN tentang Isu-Isu Strategis dan Aktual Kebimasislaman Tahun 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas dan wawasan para penghulu di Sumatera Utara agar semakin tanggap membaca berbagai perubahan dan persoalan strategis yang berkembang di tengah masyarakat.
Ketua PW APRI Sumatera Utara, H. Yakhman Hulu, S.Ag., M.Ikom, mengatakan bahwa dinamika masyarakat saat ini menuntut penghulu tidak hanya memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas pelayanan dan pencatatan pernikahan, tetapi juga mampu memahami serta merespons berbagai isu sosial, keagamaan, keluarga dan kemasyarakatan yang berkembang.
“Pembinaan ini sangat penting bagi para penghulu karena tugas penghulu hari ini semakin kompleks. Penghulu dituntut tidak hanya memahami aspek administratif dan hukum perkawinan, tetapi juga harus tanggap terhadap isu-isu strategis yang berkembang di masyarakat,” ujar Yakhman.
Menurutnya, penghulu merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan publik keagamaan di tingkat kecamatan. Posisi tersebut membuat penghulu memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan bersentuhan dengan berbagai persoalan kehidupan keluarga serta sosial keagamaan.
Karena itu, Yakhman berharap pembinaan yang diberikan Ditjen Bimas Islam dapat mendorong para penghulu untuk meningkatkan kemampuan membaca fenomena sosial dan menerjemahkannya dalam bentuk pembinaan yang konkret.
“Penghulu harus mampu menjadi bagian dari solusi. Ketika muncul persoalan di masyarakat, penghulu harus memiliki kepekaan untuk melihat akar persoalannya dan kemudian memberikan pendekatan keagamaan yang tepat,” jelasnya.
Dirjen Bimas Islam Soroti Isu Aktual
Kegiatan pembinaan tersebut menghadirkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Abu Rokhmad, M.Ag., sebagai bagian dari penguatan wawasan ASN di lingkungan Bimas Islam.
Dalam arahannya, Abu Rokhmad menekankan sejumlah isu strategis yang perlu mendapat perhatian jajaran KUA, penghulu dan penyuluh agama, termasuk persoalan lingkungan melalui pendekatan ekoteologi serta dinamika sosial terkait tren penurunan angka pencatatan pernikahan secara nasional.
Dirjen Bimas Islam mendorong Kepala KUA, penghulu dan penyuluh agama agar tidak bersikap pasif terhadap perubahan sosial, tetapi mampu menggaungkan nilai-nilai Islam melalui edukasi dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Berkaitan dengan isu lingkungan, Abu Rokhmad menekankan pentingnya pendekatan ekoteologi sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga alam. Menurutnya, nilai-nilai agama harus mampu diterjemahkan dalam perilaku nyata, mulai dari pengelolaan sampah, penanaman pohon hingga membangun kesadaran masyarakat agar aktivitas ekonomi tidak merusak lingkungan.
Sementara dalam isu keluarga, Dirjen Bimas Islam menyoroti fenomena penundaan pernikahan dan narasi negatif mengenai perkawinan yang berkembang di kalangan generasi muda usia produktif. Persoalan tersebut dinilai membutuhkan respons dan edukasi yang lebih aktif dari para penghulu dan penyuluh agama.
Kakanwil: Penghulu Harus Responsif
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Kamis (3/9/2026) tersebut turut dihadiri Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, H. Ahmad Qosbi, S.Ag., M.M.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Dr. H. Arsyad Hidayat, Lc., M.A., Kabag TU Kanwil Kemenag Sumut Syafrizal Bancin, Kabid Urais Kanwil Kemenag Sumut Sakoanda Siregar, dan Kabid Penais Kanwil Kemenag Sumut Zulfan Efendi.
Kehadiran jajaran pimpinan tersebut menjadi bagian dari penguatan koordinasi dan pembinaan terhadap ASN, khususnya jajaran KUA, penghulu dan penyuluh agama dalam menghadapi perkembangan isu kebimasislaman.
Yakhman menilai pembinaan tersebut penting karena penghulu berada pada posisi strategis sebagai pelayan sekaligus pembina masyarakat di tingkat kecamatan.
“Penghulu berada sangat dekat dengan masyarakat. Karena itu, penghulu harus mengetahui apa yang sedang terjadi di masyarakat. Isu perkawinan, ketahanan keluarga, generasi muda, lingkungan, moderasi beragama dan berbagai persoalan sosial lainnya harus menjadi perhatian penghulu,” katanya.
Ia menambahkan, ke depan penghulu perlu memperkuat kemampuan komunikasi publik dan membangun kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat sehingga pembinaan keagamaan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dihadiri Penghulu dari Sejumlah Cabang APRI
Kegiatan pembinaan tersebut diikuti para Kepala KUA se-Sumatera Utara serta anggota Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Provinsi Sumatera Utara.
Hadir pula para penghulu yang tergabung dalam APRI Cabang Kota Medan, APRI Cabang Deli Serdang, APRI Kota Binjai, APRI Langkat, dan APRI Batubara.
Bagi PW APRI Sumut, keterlibatan para penghulu dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif dan menyamakan pemahaman dalam merespons berbagai isu kebimasislaman yang berkembang.
Yakhman berharap hasil pembinaan tidak berhenti pada ruang pertemuan, tetapi dapat diterjemahkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di KUA.
“Yang paling penting adalah bagaimana materi pembinaan ini kita bawa pulang dan kita implementasikan. Penghulu harus semakin responsif, semakin adaptif, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh penghulu yang tergabung dalam APRI Sumut untuk menjadikan momentum pembinaan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan publik keagamaan.
“Profesionalisme penghulu bukan hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan administrasi pernikahan, tetapi juga dari kemampuan kita membaca persoalan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaiannya. Karena itu, penghulu harus terus belajar dan memperbarui wawasan,” pungkas Yakhman.
PW APRI Sumut menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kompetensi para penghulu serta memperkuat sinergi dengan Ditjen Bimas Islam dan Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara dalam menghadirkan pelayanan dan pembinaan keagamaan yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman. (M Hisyam)