Tidak semua jalan untuk menjadi ASN dihiasi dengan pujian dan
tepuk tangan. Beberapa justru terasa sepi, panjang dan melelahkan seperti
lorong sempit yang harus dilalui sendirian tanpa tahu apakah akhirnya akan ada
cahaya yang menyinari. Perjalanan saya adalah salah satunya.
Enam tahun bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu Instansi bukan
hanya tentang menjalani pekerjaan. Ia adalah tentang bertahan, bertahan dalam
ketidakpastian yang tak kunjung selesai. Bertahan dengan penghasilan yang
sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bertahan dengan harapan
yang harus dijaga dengan baik agar tidak terlalu sakit ketika akhirnya hancur.
Selama enam tahun itu pula saya mengikuti seleksi CPNS sebanyak
enam kali. Enam kali berharap, enam kali berdoa dengan cara yang sama dan enam
kali mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Bukan karena tidak
berusaha, bukan pula karena tidak serius dalam berupaya. Namun hasilnya belum
memberi keuntungan, kegagalan yang terus-menerus perlahan membuat keyakinan
semakin pudar. Di suatu saat, saya mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah saya
memang tidak cukup layak? Ataukah jalan ini memang bukan untuk saya?
Ada hari-hari di mana semangat terasa asing, ada malam-malam
ketika doa terasa berat diucapkan, bukan karena tidak percaya tapi karena
terlalu sering berharap lalu merasa kecewa.
Padahal Allah sudah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah: 216)
Menjadi honorer juga berarti belajar mengelola rasa, rasa yang
tidak pernah tertulis di surat keputusan atau daftar hadir. Rasa insecure ketika pegawai baru datang
karena dia lebih muda, terlihat lebih segar dan berjalan lebih cepat. Sementara
saya masih berada di tempat yang sama, menanggung tugas yang makin bertambah
tanpa tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Perasaan terabaikan itu
benar-benar ada meski tak pernah diungkapkan, ia hadir dalam keheningan. Dalam
senyum yang dipaksa, dalam kalimat "tidak apa-apa" yang sebenarnya
penuh rasa sakit.
Tahun 2024 datang sebagai babak yang berbeda, saya kembali
mengikuti seleksi CPNS. Kali ini memilih posisi Penghulu di Kementerian Agama.
Anehnya tidak ada rasa gembira, tidak ada harapan yang meluap, yang ada justru
rasa pasrah yang tenang. Dalam hati saya berbisik, "Ya Allah, jika ini
bukan jalan yang Engkau pilih, saya bersedia menerima dengan ikhlas." Dan
jika ini jalan yang harus aku tempuh, aku mohon Engkau perkuat aku.
Pada saat hampir bersamaan, para rekan honorer lainnya mulai
terdaftar dalam proses pendataan PPPK. Nama mereka tercantum satu per satu, nama
saya tidak. Kesedihan itu datang lagi tapi sekarang tanpa rasa marah dan tanpa
protes, hanya doa yang dibaca dalam diam dan air mata yang menetes tanpa suara.
Ujian CPNS pun tidak berjalan mulus. Kondisi fisik memburuk sampai
harus menerima perawatan medis. Tenaga terasa lemah, fokus jadi sulit terjaga
dan keyakinan kembali diuji. Nilai SKD yang saya dapat berada di batas aman bukan
termasuk kategori meyakinkan. Namun Allah selalu mempunyai cara yang tidak
pernah kita bayangkan. Meski ada berbagai keterbatasan tersebut, saya tetap
dinyatakan lulus dan berhak mengikuti tahap SKB. Sebelum SKB, rasa tekanan
mental terasa lebih berat daripada ujian tertulis. Takut berharap, takut
kecewa, takut jatuh untuk kesekian kalinya.
Di titik itu, saya benar-benar memahami arti tawakal yang
sebenarnya. Bukan hanya berserah setelah berusaha tetapi menyerahkan hasilnya
dengan tulus tanpa memaksa kehendak-Nya. Dan akhirnya hasil itu datang. Nama
saya tercantum sebagai peserta yang lulus.
Tidak ada teriakan, tidak ada selebrasi berlebihan, hanya diam yang panjang dan
rasa terima kasih yang sangat dalam sampai sulit diucapkan dengan kata-kata.
Kelulusan CPNS ini dan Menjadi PNS 100% bukan hanya tentang status atau gaji saja. Ia
adalah pengakuan bahwa kesabaran selalu mendatangkan hasil yang baik. Doa-doa
yang tertunda selama bertahun-tahun tetap didengar meski jawabannya datang pada
waktu yang berbeda. Sekarang saya tahu satu hal yang sangat penting, Allah
tidak selalu memilih orang yang paling cepat tetapi orang yang paling siap.
Bukan orang yang paling tegas percaya diri tapi orang yang paling bisa tunduk.
Untuk para pejuang CPNS dan ASN yang masih menunggu, tolong jangan
berhenti maju. Jika hari ini belum berhasil, bukan berarti kamu selamanya
gagal. Mungkin Allah sedang mempersiapkan kita bukan hanya agar lulus tapi agar
bisa kuat ketika amanah itu benar-benar diberikan. Akhirnya, yang sampai bukan
selalu orang yang berlari paling cepat melainkan orang yang tetap berjalan
meski berjalan dengan lemah, meski lelah, meski berkali-kali hampir menyerah
tapi tetap memilih bertahan dan percaya bahwa Allah tidak pernah salah
menentukan waktu.
Dafiq Iman Hakim MS, S.H. (Penghulu Ahli Pertama – KUA
Gunungsitoli Utara, Kemenag Kota Gunungsitoli)