Antara Viral dan Benar: Ketika Informasi Menguji Keimanan

Ketika Jari Lebih Cepat daripada Pikiran

Di zaman ketika sebuah informasi dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya hanya dalam hitungan detik, kecepatan sering kali dianggap lebih penting daripada kebenaran. Telepon genggam yang berada di dalam saku kita telah berubah menjadi pintu masuk bagi jutaan informasi setiap hari. Berita, foto, video, komentar, dan berbagai potongan peristiwa datang tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Apa yang terjadi di sebuah tempat yang jauh dapat segera diketahui oleh masyarakat di tempat lain hanya beberapa detik setelah peristiwa itu berlangsung. Kemajuan teknologi tentu patut disyukuri karena telah memberikan kemudahan luar biasa dalam memperoleh pengetahuan dan membangun komunikasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru ketika manusia kehilangan kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi. Pada titik inilah kemampuan untuk membedakan antara informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan menjadi bagian penting dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

Salah satu persoalan yang semakin sering kita jumpai adalah kebiasaan membagikan informasi sebelum memastikan kebenarannya. Sebuah judul yang provokatif terkadang sudah cukup untuk membuat seseorang langsung membuka, mempercayai, kemudian meneruskannya kepada orang lain. Tidak jarang pula sebuah informasi dibagikan hanya karena berasal dari teman dekat, keluarga, atau seseorang yang dianggap dapat dipercaya. Padahal, kedekatan seseorang dengan sumber informasi tidak otomatis menjamin bahwa informasi tersebut benar. Dalam situasi tertentu, berita yang belum terverifikasi bahkan dapat berkembang menjadi fitnah, kepanikan, permusuhan, dan kerugian bagi orang lain. Ironisnya, setelah informasi tersebut tersebar luas, tidak semua orang yang ikut menyebarkannya merasa memiliki tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Kalimat seperti “Saya hanya meneruskan” sering digunakan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab, padahal setiap tindakan tetap memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah Swt.

Islam Tidak Mengajarkan Sikap Asal Percaya

Islam sejak awal telah memberikan perhatian besar terhadap persoalan informasi dan berita. Allah Swt. mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang jelas. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 36, Allah berfirman, “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadikan dugaan sebagai kebenaran, apalagi menjadikannya dasar untuk berbicara atau bertindak. Apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, dan apa yang kita yakini semuanya memiliki konsekuensi yang akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, Islam tidak mengajarkan sikap asal percaya terhadap setiap informasi yang datang, tetapi mengajarkan kehati-hatian, ketelitian, dan tanggung jawab. Dalam konteks kehidupan digital hari ini, pesan tersebut terasa semakin penting karena setiap orang bukan hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi produsen sekaligus penyebarnya.

Dahulu, sebuah perkataan mungkin hanya didengar oleh beberapa orang yang berada di sekitar kita. Kini, satu kalimat yang ditulis di media sosial dapat dibaca oleh ratusan bahkan jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat. Satu foto yang diberi keterangan keliru dapat membentuk persepsi publik sebelum orang mengetahui fakta yang sebenarnya. Satu potongan video yang dilepaskan dari konteks dapat membuat seseorang dinilai buruk tanpa kesempatan untuk memberikan penjelasan. Satu pesan yang tidak benar dapat berulang kali diteruskan dari satu grup percakapan ke grup lainnya hingga akhirnya dianggap sebagai fakta. Kecepatan penyebaran inilah yang membuat kesalahan kecil dalam menyampaikan informasi dapat berubah menjadi persoalan besar. Karena itu, semakin luas jangkauan teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita pikul ketika menggunakannya.

Rasulullah saw. telah memberikan peringatan yang sangat relevan tentang kebiasaan menyampaikan semua informasi yang diterima. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, beliau bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” Pesan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kejujuran bukan hanya tentang membuat kebohongan dari awal. Seseorang juga harus berhati-hati agar tidak menjadi mata rantai yang membuat sebuah informasi yang tidak benar terus berpindah dari satu orang kepada orang lainnya. Dengan demikian, tanggung jawab seorang Muslim tidak berhenti pada pertanyaan apakah dirinya menciptakan berita palsu atau tidak. Ia juga perlu bertanya apakah informasi yang sedang disebarkannya telah diperiksa, memiliki sumber yang jelas, dan layak dipercaya. Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara atau menyebarkan sesuatu yang belum pasti merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

Ketika mendengar istilah hoaks, perhatian masyarakat sering langsung tertuju pada isu politik, kriminalitas, bencana, ekonomi, kesehatan, atau berbagai peristiwa yang sedang menjadi perhatian publik. Padahal, informasi palsu juga dapat menyusup ke dalam ruang keagamaan dengan bentuk yang jauh lebih halus. Kita sering menemukan kutipan yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw., sahabat, ulama, atau tokoh Islam tertentu tanpa disertai sumber yang jelas. Sebagian kutipan tersebut memiliki susunan kata yang indah dan terdengar sangat menyentuh sehingga orang langsung menganggapnya sebagai nasihat agama yang benar. Karena isinya dianggap baik, banyak orang merasa tidak perlu lagi memeriksa siapa yang sebenarnya mengucapkan atau dari mana perkataan tersebut berasal. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, keindahan sebuah kalimat tidak otomatis menjadikannya sebagai perkataan Nabi atau ulama tertentu. Justru semakin mulia nama yang dicantumkan di belakang sebuah kutipan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan bahwa penisbatan tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika Nama Ulama Dijadikan Legitimasi

Salah satu fenomena yang perlu menjadi perhatian adalah beredarnya berbagai ungkapan yang dinisbatkan kepada ulama besar tanpa rujukan yang memadai. Nama Imam al-Syafi’i, misalnya, sangat sering digunakan untuk menguatkan berbagai nasihat yang beredar di media sosial. Tidak sedikit kutipan yang terdengar sangat indah kemudian langsung diberi label “Imam Syafi’i berkata” tanpa menyebutkan kitab atau sumber asalnya. Persoalannya bukan semata-mata apakah kalimat tersebut baik atau buruk, melainkan apakah benar kalimat itu berasal dari tokoh yang disebutkan. Dalam tradisi ilmiah Islam, penisbatan perkataan kepada seorang ulama membutuhkan kehati-hatian karena nama seorang tokoh tidak boleh digunakan sebagai legitimasi untuk sesuatu yang belum terbukti. Apalagi jika sebuah perkataan kemudian digunakan untuk membangun pandangan keagamaan tertentu, maka kesalahan dalam sumber dapat menyebabkan kesalahan dalam memahami agama. Karena itu, budaya mencantumkan sumber, memeriksa kitab rujukan, dan membedakan antara kutipan asli dengan ungkapan populer perlu terus ditanamkan dalam kehidupan digital umat Islam.

Hal yang sama berlaku ketika kita menemukan sebuah hadis yang beredar di media sosial. Jangan terburu-buru menuliskan kalimat “Rasulullah saw. bersabda” hanya karena sebuah pesan mencantumkan nama beliau di bagian akhir. Kita perlu mengetahui apakah hadis tersebut benar-benar memiliki sumber yang jelas dan bagaimana kualitas riwayatnya. Sikap hati-hati semacam ini bukan bentuk mempersulit agama, tetapi justru merupakan bagian dari penghormatan terhadap ajaran Rasulullah saw. Para ulama hadis sejak dahulu telah menunjukkan tradisi ilmiah yang sangat ketat dalam meneliti sanad, perawi, dan teks sebuah riwayat. Mereka tidak mudah menerima sebuah berita hanya karena isinya terdengar baik atau karena disampaikan oleh seseorang yang dianggap terpercaya. Semangat ilmiah tersebut seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat Muslim ketika berhadapan dengan informasi agama di era digital. Jangan sampai teknologi membuat kita justru lebih mudah menyandarkan sesuatu kepada Nabi daripada generasi ulama yang menghabiskan hidupnya untuk menjaga kemurnian riwayat.

Tabayun sebagai Etika Digital Muslim

Dalam menghadapi banjir informasi, Islam memiliki konsep penting yang dikenal dengan istilah tabayun, yaitu upaya memeriksa dan memastikan kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Prinsip ini sangat relevan diterapkan dalam kehidupan digital karena tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan benar-benar memiliki dasar yang kuat. Tabayun berarti memberikan kesempatan kepada fakta untuk berbicara sebelum emosi mengambil alih penilaian. Ketika menerima berita yang mengejutkan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dari mana informasi tersebut berasal. Kita juga perlu melihat apakah ada sumber resmi atau rujukan terpercaya yang dapat menguatkan informasi tersebut. Jika sebuah berita menyangkut kehormatan seseorang, persoalan agama, atau sesuatu yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat, maka kehati-hatian harus menjadi lebih besar. Dengan membiasakan tabayun, kita bukan hanya melindungi diri dari kesalahan informasi, tetapi juga ikut menjaga masyarakat dari fitnah dan keresahan yang tidak perlu.

Diam Kadang Lebih Bijak daripada Berbagi

Tidak semua informasi harus kita teruskan kepada orang lain. Tidak semua pesan yang masuk ke telepon genggam kita harus memiliki perjalanan berikutnya menuju grup keluarga, grup pekerjaan, grup masjid, atau media sosial. Ada kalanya pilihan terbaik justru berhenti pada diri kita sendiri. Ketika sebuah informasi belum jelas kebenarannya, menahan diri bukan berarti kita tidak peduli terhadap keadaan. Sebaliknya, sikap tersebut menunjukkan bahwa kita memahami adanya tanggung jawab di balik setiap informasi yang disebarkan. Dalam kondisi tertentu, diam dapat menjadi bentuk kehati-hatian yang jauh lebih bernilai daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan sebuah berita. Terlebih jika berita tersebut berpotensi mencemarkan nama baik, menimbulkan kepanikan, memecah hubungan sosial, atau mengatasnamakan agama tanpa dasar. Seorang Muslim seharusnya tidak hanya berlomba menjadi yang tercepat membagikan informasi, tetapi juga berusaha menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

Menjadi Muslim yang Cerdas Bermedia

Kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya membuat kita semakin cepat menerima informasi, tetapi juga semakin dewasa dalam mengelolanya. Literasi digital dalam perspektif Islam tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan aplikasi atau memahami cara kerja media sosial. Lebih dari itu, literasi digital harus melahirkan kesadaran bahwa setiap aktivitas di ruang digital tetap berada dalam pengawasan Allah Swt. Jari yang mengetik komentar, tangan yang menekan tombol bagikan, dan mulut yang membacakan sebuah berita semuanya merupakan bagian dari tindakan manusia yang memiliki pertanggungjawaban. Karena itu, kecakapan bermedia perlu berjalan seiring dengan akhlak, ilmu, dan kesadaran spiritual. Seorang Muslim yang cerdas bukanlah orang yang selalu memiliki sesuatu untuk dibagikan, tetapi orang yang mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri. Ia tidak mudah terprovokasi oleh judul, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dan tidak menjadikan popularitas sebuah informasi sebagai ukuran kebenarannya.

Pada akhirnya, persoalan informasi bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang karakter manusia yang menggunakannya. Teknologi hanyalah alat, sedangkan arah penggunaannya sangat bergantung pada ilmu dan akhlak pemiliknya. Dengan teknologi, seseorang dapat menyebarkan ilmu yang bermanfaat, memperkuat silaturahmi, mengajak kepada kebaikan, dan menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, dengan alat yang sama, seseorang juga dapat menyebarkan fitnah, kebencian, kebohongan, dan informasi yang menyesatkan. Karena itu, setiap kali hendak menekan tombol “bagikan”, ada baiknya kita memberikan jeda beberapa detik untuk bertanya kepada diri sendiri apakah informasi tersebut benar, bermanfaat, dan layak disebarkan. Tiga pertanyaan sederhana itu dapat menjadi pagar sebelum jari kita menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang salah. Jika jawabannya belum jelas, tidak ada kerugian untuk menunggu, memeriksa, atau bahkan memilih tidak membagikannya.

Sebab, di era ketika semua orang dapat menjadi penyebar informasi, menjadi orang yang mampu menahan diri justru merupakan bentuk kecerdasan yang semakin langka. Kita tidak perlu menjadi orang pertama yang menyampaikan sebuah berita jika kebenarannya belum dapat dipastikan. Kita tidak perlu ikut menyebarkan sebuah kutipan hanya karena kalimatnya indah dan mencantumkan nama tokoh besar. Kita juga tidak perlu merasa tertinggal hanya karena orang lain lebih cepat membagikan sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan. Dalam Islam, kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran kebaikan, karena kebenaran, amanah, dan kemaslahatan jauh lebih utama. Biarlah informasi yang keluar dari tangan kita sedikit, tetapi semuanya memiliki dasar dan membawa manfaat. Biarlah kita terlambat membagikan sebuah berita, tetapi tidak menjadi orang yang menyesal karena telah ikut menyebarkan kebohongan. Karena satu kali tombol “bagikan” ditekan, kita mungkin tidak lagi mampu mengendalikan ke mana informasi itu pergi, tetapi sebelum menekannya, kita masih memiliki kendali penuh untuk memilih: menjadi bagian dari penyebaran kebenaran atau menjadi mata rantai kebohongan.

*Sabrun Mendrofa, S.E (Penulis adalah Penghulu Ahli Muda/Kepala KUA Tuhemberua - Kemenag Nias Utara).

Bagikan Artikel