Pejabat
Fungsional Penghulu yang selanjutnya disebut Penghulu adalah pegawai negeri
sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak untuk melakukan
kegiatan pelayanan dan bimbingan nikah atau rujuk, pengembangan kepenghuluan,
dan bimbingan masyarakat Islam. (KMA No 20 Tahun 2019)
Penghulu
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelas sosial yang
mempertahankan norma sosial dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam
kaitannya dengan ketaatan agama, perkawinan, dan hukum Islam. Memprioritaskan
tugas masih penting sekarang, tetapi ada perbedaan yang signifikan dalam cara
mereka melaksanakan tugas tersebut. Dalam konteks ini, penting untuk memeriksa
perbedaan antara masa lalu dan masa kini, terutama mengingat dunia yang lebih
kontemporer dan digital.
1. Peran Tradisional vs Peran Modern
Di masa lalu, Penghulu lebih sering dikenal
sebagai simbol perlawanan terhadap banyak acara keagamaan dan budaya, terutama
pernikahan. Mereka sangat rendah hati dan sering bertindak sebagai pemimpin
spiritual dan penyembuh tradisional. Dalam komunitas adat, sesepuh adalah
mereka yang memberikan bimbingan spiritual dan wawasan penting terkait agama
dan etika.
Sebaliknya, manusia modern diharapkan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan peraturan hukum yang lebih formal, birokratish, daripada hanya memahami iman dan etika. Modern penghulu terlibat dalam proses upacara keagamaan, bertutama dalam urusan pernikahan dan administrasi perdata. Terutama, harus memahami regulasi hukum negara yang terus berkembang.
2. Kehadiran Fisik vs Teknologi
Pada
masa lalu, penghulu menjalankan tugasnya dengan kehadiran fisik yang hampir
selalu dibutuhkan dalam setiap prosesi. Mereka harus hadir langsung dalam
setiap acara, mulai dari akad nikah hingga memberikan ceramah agama. Semua
interaksi terjadi secara tatap muka, dan masyarakat biasanya datang langsung ke
rumah atau kantor penghulu untuk berkonsultasi.
Di
masa kini, teknologi telah mengubah cara penghulu berinteraksi dengan
masyarakat. Dengan adanya internet, media sosial, dan website, penghulu dapat
memberikan pelayanan secara online. Penghulu masa kini bisa menyebarkan
informasi, menerima pendaftaran pernikahan, dan bahkan memberikan ceramah atau
bimbingan melalui platform digital. Hal ini memudahkan masyarakat dalam
mendapatkan layanan, sekaligus meningkatkan efisiensi kerja penghulu.
3. Fokus Spiritual vs Administratif
Di
masa lalu, penghulu lebih fokus pada aspek spiritual dan sosial. Mereka
dianggap sebagai pemimpin moral dan pengayom masyarakat. Penghulu memainkan
peran penting dalam memberikan nasihat pernikahan, membimbing pasangan baru,
serta memberikan pengetahuan tentang hukum-hukum agama. Kewibawaan penghulu
didasarkan pada pengetahuan agama dan pengaruh sosialnya dalam komunitas.
Namun, penghulu masa kini juga harus menangani aspek administratif yang lebih kompleks. Dengan semakin ketatnya regulasi pemerintah terkait pernikahan dan urusan keluarga, penghulu kini juga berperan sebagai administrator yang mengurus dokumen, sertifikat, dan persyaratan hukum lainnya. Mereka dituntut untuk memahami regulasi negara serta menjalankan tugas-tugas administratif, selain tetap mempertahankan peran spiritual mereka.
4. Otoritas Tradisional vs Profesionalisme
Penghulu
di masa lalu sering kali mendapatkan kedudukan mereka melalui warisan keluarga
atau pengaruh di komunitas lokal. Banyak yang ditunjuk berdasarkan reputasi dan
kedalaman pengetahuan mereka tentang adat serta agama. Sebagai penjaga tradisi,
penghulu dianggap memiliki otoritas penuh dalam urusan-urusan adat dan agama.
Penghulu
masa kini lebih sering dipilih atau diangkat berdasarkan kualifikasi
profesional dan pelatihan formal. Mereka harus melewati proses seleksi dan
pelatihan dari pemerintah, dan diharapkan memiliki kemampuan yang lebih terukur
dalam hal administrasi serta agama. Profesionalisme menjadi standar baru, di
mana penghulu harus mampu memenuhi berbagai ekspektasi, baik dari segi agama
maupun hukum.
5. Tantangan Zaman
Tantangan
yang dihadapi penghulu masa lalu sebagian besar berkaitan dengan mempertahankan
adat istiadat dan kepercayaan dalam masyarakat yang masih sangat tradisional.
Mereka harus memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan agama tetap terjaga,
meskipun tanpa sarana komunikasi yang modern.
Di sisi lain, penghulu masa kini menghadapi tantangan yang berbeda. Selain harus menjaga nilai-nilai agama dan tradisi, mereka juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang cepat. Globalisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan gaya hidup masyarakat modern menuntut penghulu untuk terus relevan dan inovatif dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Kesimpulan
Antara
penghulu dulu dan penghulu masa kini, keduanya tetap memiliki peran yang sangat
penting dalam masyarakat, meskipun dengan tantangan dan pendekatan yang
berbeda. Penghulu masa lalu lebih terfokus pada pemeliharaan tradisi dan
spiritualitas, sementara penghulu masa kini harus menyeimbangkan peran
spiritual dan administratif di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
Dalam konteks yang terus berubah, penghulu masa kini dituntut untuk lebih
fleksibel, inovatif, dan profesional, sambil tetap mempertahankan esensi moral
dan keagamaan yang menjadi inti dari peran mereka.
.